Stella Christie Ungkap Penyebab Energi Panas Bumi Belum Optimal di Indonesia

Wamendiktisaintek Stella Christie ungkap penyebab energi panas bumi di Indonesia belum optimal. Harga listrik geothermal mencapai 18 sen per kWh, jauh di atas batu bara.

Elara | MataMata.com
Selasa, 07 April 2026 | 10:14 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam kegiatan halal bihalal bersama media di Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam kegiatan halal bihalal bersama media di Jakarta, Senin (6/4/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad

Matamata.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengungkapkan penyebab utama energi panas bumi (geothermal) belum dapat diaplikasikan secara efektif di Indonesia. Faktor harga yang belum kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil menjadi hambatan utama.

"Penyebab implementasi geothermal belum berhasil hingga saat ini adalah masalah harga listrik. Biaya dari fossil fuel batu bara itu sekitar 7-8 sen per kilowatt hours (kWh), sementara geothermal di Indonesia masih sekitar 18 sen per kWh," ujar Stella Christie di Jakarta, Senin (6/4).

Stella menjelaskan, mahalnya harga listrik panas bumi tersebut merupakan fenomena global yang membuat banyak negara belum mengimplementasikan energi terbarukan ini secara masif. Meski demikian, ia optimistis Indonesia bisa menjadi pemimpin di sektor ini mengingat besarnya potensi yang dimiliki.

Berdasarkan data, sekitar 40 persen cadangan energi panas bumi dunia berada di Indonesia. Namun, pemanfaatannya saat ini masih sangat minim.

"Di Indonesia, kita baru menggunakan 10 persen dari potensi geothermal. Kita harus sungguh-sungguh bekerja sama dengan berbagai instansi untuk meninjau kembali ekosistem panas bumi di tanah air," tegasnya.

Lebih lanjut, Stella menggarisbawahi bahwa panas bumi harus menjadi prioritas riset strategis nasional. Selain ramah lingkungan, energi ini dinilai lebih konsisten karena tidak bergantung pada cuaca, berbeda dengan energi surya atau angin.

Saat ini, Pemerintah RI memosisikan riset energi sebagai pilar utama dalam Program Riset Strategis Nasional. Langkah ini diambil untuk mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen sesuai kebijakan energi nasional.

Integrasi riset panas bumi ke skala nasional juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia terhadap Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) demi mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti hampir 700 bencana alam yang terjadi di awal 2026. Ia mendesak pemerintah memberika...

news | 15:15 WIB

Jusuf Kalla (JK) datangi Bareskrim Polri untuk melaporkan Rismon Sianipar atas dugaan fitnah aliran dana Rp5 miliar terk...

news | 14:15 WIB

Seskab Teddy Indra Wijaya menerima kunjungan Kepala BIN Muhammad Herindra untuk membahas persiapan Sidang TPA dan isu st...

news | 13:00 WIB

Pertamina Patra Niaga JBT imbau warga waspadai elpiji oplosan pasca-pengungkapan kasus di Jateng. Simak cara cek segel h...

news | 12:12 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman pastikan harga pupuk subsidi tidak naik meski Selat Hormuz ditutup. Stok nasional aman 1,29 j...

news | 11:00 WIB

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyatakan pembahasan status Bulog menjadi badan otonom masih menunggu keputusan ...

news | 10:15 WIB

Pemerintah resmi menetapkan HPP gabah Rp6.500/kg melalui Inpres No. 4 Tahun 2026. Stok beras nasional kini tembus rekor ...

news | 09:30 WIB

KPAI desak Badan Gizi Nasional investigasi transparan kasus keracunan 72 siswa dalam program Makan Bergizi Gratis di Jak...

news | 08:30 WIB

Rusia dan China resmi gunakan hak veto untuk memblokir resolusi DK PBB terkait keamanan navigasi di Selat Hormuz yang di...

news | 07:15 WIB

China ingatkan DK PBB agar resolusi terkait Timur Tengah tidak dijadikan alat legitimasi agresi militer AS dan Israel di...

news | 06:00 WIB