Ketua DPR RI Puan Maharani. ANTARA/HO-PDIP
Matamata.com - Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan solusi segera di tengah tingginya frekuensi bencana alam yang melanda Indonesia belakangan ini. Puan menyoroti adanya pola bencana berulang yang menunjukkan masyarakat masih berada dalam kondisi rentan.
Berdasarkan data yang diterima hingga Rabu (8/4/2026), tercatat hampir 700 bencana alam terjadi hanya dalam kurun waktu tiga bulan pertama tahun ini. Menurut Puan, angka tersebut menjadi alarm bahwa tekanan kebencanaan di Indonesia semakin padat, luas, dan kompleks dampak sosialnya.
“Dengan masih banyaknya bencana alam, terutama yang berulang, ini harus dilihat sebagai bentuk kerentanan rakyat yang belum banyak bergeser dan harus segera mendapat solusi,” ujar Puan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.
Ia menekankan bahwa rentetan peristiwa ini tidak boleh sekadar dianggap sebagai akumulasi fenomena alam musiman. Lebih dari itu, kondisi ini menggambarkan bahwa ruang hidup masyarakat masih sangat rentan terhadap gangguan alam yang terus kembali di lokasi yang sama.
Puan menilai tantangan terbesar negara saat ini adalah bagaimana sistem nasional mampu membaca pola kerentanan, bukan sekadar bergerak setelah bencana terjadi. Ia mencontohkan, jika banjir terus mendominasi, maka ada persoalan serius pada tata air, kapasitas lingkungan, dan kesiapan permukiman yang belum sebanding dengan risiko yang ada.
“Data kejadian bencana seharusnya tidak berhenti sebagai statistik mingguan, tetapi mesti menjadi dasar koreksi tajam terhadap wilayah yang paling sering terdampak,” tegasnya.
Politisi PDI-Perjuangan ini juga mengingatkan Pemerintah untuk memperhatikan kemampuan keluarga bertahan hidup pascabencana. Menurutnya, fase pemulihan—saat rumah rusak dan penghasilan terhenti—adalah beban terberat bagi warga.
Oleh karena itu, Puan menilai keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari kecepatan bantuan darurat, melainkan dari keberanian pemerintah memperbaiki sumber masalah secara bertahap dan terukur.
“Pada akhirnya, yang paling penting dijaga adalah agar masyarakat tidak merasa hidup dalam siklus kerusakan yang terus berulang tanpa perubahan yang nyata,” pungkasnya. (Antara)
Baca Juga: Cara Cek Segel Hologram Elpiji Pertamina dan Lokasi Pangkalan Resmi LPG 3 KG