AS Tetapkan Iran sebagai Ancaman Terbesar di Timur Tengah dalam Strategi Kontraterorisme Terbaru

AS menetapkan Iran sebagai ancaman terbesar di Timur Tengah dalam dokumen strategi terbaru. Simak perkembangan terkini konflik Selat Hormuz dan nasib Project Freedom.

Elara | MataMata.com
Kamis, 07 Mei 2026 | 12:18 WIB
Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)

Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)

Matamata.com - Pemerintahan Presiden Donald Trump secara resmi menetapkan Iran sebagai ancaman utama bagi Amerika Serikat yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Pernyataan tegas ini tertuang dalam dokumen Strategi Kontraterorisme Amerika Serikat terbaru.

"Ancaman terbesar bagi Amerika Serikat yang berasal dari Timur Tengah datang khususnya dari Iran, baik secara langsung melalui kemampuan nuklir dan misilnya, maupun secara tidak langsung lewat penyaluran dana miliaran dolar kepada kelompok proksi, termasuk Hezbollah," demikian bunyi dokumen tersebut sebagaimana dikutip dari RIA Novosti, Kamis (7/5/2026).

Ketegangan antara kedua negara sempat memuncak pada 28 Februari lalu, saat Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan material dan memakan korban jiwa dari pihak sipil.

Meski sempat ada titik terang melalui pengumuman gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April, jalur diplomasi nyatanya masih menemui jalan buntu.

Pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi ini memaksa Presiden Trump memperpanjang masa penghentian pertempuran guna memberikan ruang bagi Iran menyusun “proposal terpadu.”

Eskalasi konflik ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia. Jalur pelayaran di Selat Hormuz hampir lumpuh total. Padahal, wilayah tersebut merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Akibatnya, harga energi di pasar internasional terus merangkak naik.

Merespons krisis logistik tersebut, Presiden Trump pada Minggu malam sempat mengumumkan peluncuran "Project Freedom". Operasi ini dirancang untuk mengawal dan membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar dengan aman.

Namun, dalam pernyataan terbaru pada Selasa, Trump memutuskan untuk menunda operasi militer tersebut. Langkah penundaan ini diambil untuk melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen dengan Teheran. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Badan Gizi Nasional (BGN) memproyeksikan 6 juta liter minyak jelantah dari Program Makan Bergizi Gratis setiap bulan unt...

news | 15:30 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Prabowo di KTT BIMP-EAGA untuk mendorong interkoneksi listrik lintas ...

news | 15:00 WIB

Wapres Gibran Rakabuming Raka meninjau fasilitas modern di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Lampung Timur untuk mendor...

news | 14:38 WIB

Presiden Prabowo Subianto mendorong negara-negara anggota ASEAN menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai zona perdamaian...

news | 14:29 WIB

Menteri Investasi Rosan Roeslani menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada Kuartal I 2026 dengan realisasi investasi ...

news | 14:10 WIB

Pertamina resmi menyetop distribusi Biosolar di SPBU Teuku Umar Denpasar selama 30 hari akibat praktik curang penggunaan...

news | 10:56 WIB

Diaspora Indonesia di Filipina sampaikan rasa bangga dan apresiasi atas keramahan Presiden Prabowo Subianto saat menghad...

news | 10:51 WIB

Mensos Gus Ipul dan Wamensos Agus Jabo datangi KPK untuk konsultasi pengadaan barang dan jasa 2026. Fokus utama: menjaga...

news | 10:46 WIB

Anggota Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia mendukung usulan Bawaslu untuk mem-blacklist pelaku politik uang dari kepesertaa...

news | 09:45 WIB

Menteri PKP Maruarar Sirait siapkan regulasi KPR 40 tahun. Simak simulasi cicilannya yang diprediksi turun hingga Rp800 ...

news | 06:00 WIB