Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (22/4) /ANTARA/Desca Lidya Natalia.
Matamata.com - Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski demikian, Beijing memperingatkan bahwa situasi di kawasan Timur Tengah masih berada dalam tahap kritis yang mengancam stabilitas global.
"Situasi saat ini berada pada tahap kritis terkait kemungkinan berakhirnya konflik. China mendukung para pihak untuk melanjutkan upaya politik dan diplomatik guna mewujudkan gencatan senjata penuh dan bertahan lama," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (22/4/2026).
Pernyataan ini merespons keputusan Presiden AS Donald Trump yang memperpanjang masa gencatan senjata—yang semula berakhir pada 22 April—hingga Iran mengajukan "proposal terpadu" untuk mengakhiri perang. Namun, Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan sebagai bentuk tekanan.
Langkah Washington tersebut memicu reaksi keras dari Teheran. Pemerintah Iran menolak bernegosiasi "di bawah bayang-bayang ancaman" selama blokade laut masih berlangsung. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan menebar ancaman akan menargetkan produksi minyak di seluruh Timur Tengah jika serangan diluncurkan dari wilayah negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Menanggapi ketegangan yang belum mereda, Guo Jiakun menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah mencegah kembalinya pertempuran. China menyatakan kesiapannya untuk berperan aktif berdasarkan "proposisi empat poin" Presiden Xi Jinping, yang mengedepankan kedaulatan, hukum internasional di bawah PBB, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan.
Di sisi lain, militer Iran menyatakan dalam posisi siaga penuh. Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan pihaknya siap menyerang target yang telah ditentukan jika AS melancarkan serangan baru.
Latar Belakang Ketegangan Konflik terbuka pecah sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, termasuk menyasar Teheran yang menimbulkan korban sipil. Iran membalas dengan menggempur fasilitas militer AS dan wilayah Israel.
Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata dua pekan pada 7 April. Namun, perundingan di Islamabad, Pakistan, pada pertengahan April gagal mencapai kesepakatan permanen. Kegagalan ini memicu Trump memerintahkan blokade pelabuhan Iran sejak 13 April melalui Selat Hormuz—jalur vital yang memasok 20 persen minyak bumi dan LNG global.
Terbaru, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah menyita kapal dagang Iran, Touska, yang dituduh mencoba menembus blokade di Teluk Oman. (Antara)
Baca Juga: RI Dorong Asia Pasifik Jadi Kompas Pembangunan Berkelanjutan Dunia