Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan kesaksian dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat mengenai permintaan anggaran Departemen Pertahanan untuk tahun fiskal 2027, di gedung kantor Senat Dirksen di Washington, DC pada 30 April 2026. ANTARA/Nathan Posner - Anadolu Agency/pri.
Matamata.com - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, menegaskan bahwa Washington akan mempertahankan kekuatan militer secara penuh di kawasan Indo-Pasifik. Langkah ini diambil untuk memastikan China menghormati peran AS, sekaligus merespons meningkatnya kemampuan militer Beijing yang dinilai memicu kekhawatiran regional.
Hal tersebut disampaikan Hegseth dalam forum Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) Shangri-La Dialogue di Singapura, Jumat (29/5).
"Ketika kita melihat ke seluruh kawasan saat ini, ada kekhawatiran yang beralasan mengenai peningkatan militer China yang bersejarah dan perluasan aktivitas militernya di kawasan dan di luar kawasan," ujar Hegseth.
Ia menambahkan bahwa pemerintahan AS saat ini memiliki penilaian yang sangat jernih mengenai dinamika lingkungan keamanan tersebut.
Kendati demikian, Hegseth menyebut hubungan Washington dan Beijing di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump sejatinya berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Menurutnya, Trump tetap berupaya mencapai perdamaian yang stabil, perdagangan yang adil, dan hubungan yang saling menghormati dengan China.
"Namun, jangan salah paham. Amerika adalah negara Pasifik. Kami bersikeras agar China menghormati posisi kami yang telah lama ada di kawasan ini. Kami tidak hanya bersikeras, tetapi juga mempertahankan kekuatan militer yang nyata untuk mendukungnya," tegas Hegseth.
Strategi Militer dan Lonjakan Anggaran AS
Menguraikan strategi militer AS di Pasifik, Hegseth menjelaskan bahwa fokus Washington akan berpusat pada aspek pencegahan melalui penolakan di sepanjang rantai pulau pertama (first island chain) serta memperkuat pertahanan di Pasifik Barat.
"Kami akan memprioritaskan kemampuan mematikan, disiplin strategis, dan kerja sama yang profesional daripada retorika kosong dan pameran kekuatan. Setiap calon lawan akan dipaksa untuk menilai kami berdasarkan kekuatan keras (hard power), kesiapan kolektif, dan tekad yang teguh," tambahnya.
Demi memuluskan strategi tersebut, Hegseth menyoroti rencana AS untuk memperluas produksi dan pengeluaran militer secara masif melalui mobilisasi manufaktur nasional.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila 2026: Megawati dan Presiden Prabowo Bakal Hadir di Gedung Pancasila
Ia mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump berencana meningkatkan pengeluaran pertahanan AS menjadi 1,5 triliun dolar AS (sekitar Rp26.735 triliun) tahun ini. Angka tersebut naik signifikan dari anggaran tahun lalu yang sebesar 1 triliun dolar AS (sekitar Rp17.823 triliun). Investasi generasi ini bertujuan untuk memperkuat taji kekuatan militer Amerika di kancah global.
Selain menyoroti dinamika di Indo-Pasifik, dalam forum tersebut Hegseth juga sempat menyinggung fokus global AS lainnya. Ia menegaskan bahwa Washington tetap berkomitmen penuh untuk memastikan Iran tidak mendapatkan senjata nuklir. (Antara)