AS Sita Aset Kripto Iran Senilai Rp17,8 Triliun dan Bidik Properti di Eropa

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyita aset kripto Iran senilai Rp17,8 triliun. Menkeu AS Scott Bessent sebut siap incar properti mewah Iran di Eropa dan bekukan rekening bank di Teluk.

Elara | MataMata.com
Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:39 WIB
Menteri Keuangan AS Scott Bessent. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.

Matamata.com - Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan telah menyita aset mata uang kripto milik Iran senilai hingga 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp17,8 triliun. Selain itu, Washington kini tengah berkoordinasi dengan sekutu di Eropa untuk merebut aset-aset lain yang terkait dengan Teheran.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengonfirmasi tindakan tegas tersebut pada Jumat (29/5). Ia mengibaratkan operasi senyap ini seperti langsung mengambil dompet dari saku target.

"Saya yakin kami telah merampas aset kripto mereka senilai sekitar 1 miliar dolar AS," ujar Bessent.

Bessent bahkan berseloroh bahwa sejumlah pemilik aset tidak menyadari kalau kekayaan digital mereka telah dikuasai oleh otoritas AS.

"Sebagian dari mereka mungkin masih mengetik (di perangkatnya) saat ini, dan baru sadar kalau dompet mereka sudah diambil," katanya menambahkan.

Lebih lanjut, Bessent menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan AS terus membangun komunikasi intensif dengan negara-negara sekutu untuk melakukan penyitaan aset yang lebih luas, termasuk aset fisik.

"Kami bekerja sama dengan sekutu di seluruh Eropa untuk menyita vila, rumah, dan properti mewah," tutur Bessent.

Menurut klaim sepihak dari Washington, langkah agresif ini diambil sebagai upaya untuk memulihkan dana yang dianggap telah dicuri dari rakyat Iran. "Aset-aset tersebut berasal dari uang yang dicuri dari rakyat Iran," ucap Menkeu AS.

Tak hanya menyasar sektor digital dan properti, tekanan ekonomi terhadap Iran juga memukul sektor energi. Bessent menyebutkan bahwa fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg saat ini sudah tidak beroperasi menyusul adanya blokade laut oleh militer AS.

Di sisi lain, Bessent menilai agresivitas politik Iran di Timur Tengah justru menjadi bumerang diplomasi bagi negara tersebut. Hubungan AS dengan negara-negara Teluk kini semakin solid dalam menindak Teheran lewat jalur finansial.

Baca Juga: PBNU: Jangan Beri Stigma Negatif pada Pesantren karena Ulah Segelintir Oknum

"Negara-negara Teluk kini menjadi mitra yang sangat baik. Karena itu, AS juga dapat membekukan rekening-rekening bank asal Iran di kawasan tersebut," pungkas Bessent. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

PBNU meminta masyarakat tidak memberi stigma negatif pada institusi pondok pesantren akibat kasus kekerasan seksual oleh...

news | 16:29 WIB

Gedung Putih menegaskan Presiden AS Donald Trump hanya akan menerima kesepakatan nuklir dengan Iran yang menguntungkan A...

news | 15:00 WIB

Menhan AS Pete Hegseth beri peringatan keras ke China di Shangri-La Dialogue. AS siap gelontorkan anggaran militer Rp26....

news | 14:57 WIB

Megawati Soekarnoputri diperkirakan hadir dalam Puncak Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Gedung Pancasila. ...

news | 14:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto tiba di Jakarta usai kunjungan kenegaraan ke Prancis. Indonesia sukses kantongi 4 kesepakatan ...

news | 14:11 WIB

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta mengungkap dua modus utama yang kerap digunakan calon jamaah haji nonp...

news | 13:59 WIB

Ratusan warga Teheran, Iran, konsisten turun ke jalan selama hampir 90 hari. Mereka menegaskan dukungan penuh pada pemer...

news | 13:53 WIB

Bareskrim Polri sidik dugaan manipulasi data ekspor (under invoicing) sawit oleh PT MMS. Kantor di Jakarta Utara dan gud...

news | 11:15 WIB

Iran menegaskan kesepakatan final dengan Amerika Serikat (AS) terganjal tuntutan berlebihan dari Washington. Simak krono...

news | 09:52 WIB

Pemerintah menyiapkan 24 ribu hektare lahan di Jawa untuk megaproyek PLTS 100 GW target Presiden Prabowo. Investasi temb...

news | 18:52 WIB