PBNU: Jangan Beri Stigma Negatif pada Pesantren karena Ulah Segelintir Oknum

PBNU meminta masyarakat tidak memberi stigma negatif pada institusi pondok pesantren akibat kasus kekerasan seksual oleh segelintir oknum pelaku.

Elara | MataMata.com
Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:29 WIB
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH Ma’shum Faqih. ANTARA/HO

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH Ma’shum Faqih. ANTARA/HO

Matamata.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa keberadaan ribuan pondok pesantren di Indonesia tidak boleh dihakimi secara sepihak akibat perbuatan menyimpang segelintir oknum. Hal ini merespons maraknya sorotan terkait kasus hukum, termasuk kekerasan seksual, di lingkungan pendidikan keagamaan belakangan ini.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH Ma’shum Faqih (Gus Ma'shum) meminta masyarakat luas untuk tetap bersikap objektif dan tidak membangun stigma negatif terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam historis.

"Ribuan pesantren tidak bisa diukur dari perbuatan segelintir oknum. Jika ada pelanggaran, pelakunya harus dihukum. Tetapi, pesantren sebagai institusi pendidikan yang telah berjasa bagi bangsa tidak boleh ikut dihakimi," ujar Gus Ma'shum dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Gus Ma'shum menegaskan, setiap tindakan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan harus tetap diusut tuntas dan diproses tegas sesuai hukum yang berlaku. Namun, ia mengingatkan bahwa rekam jejak pesantren selama ratusan tahun sebagai pusat pembinaan akhlak tidak boleh digeneralisasi begitu saja.

Menurutnya, tanggung jawab hukum mutlak berada pada personal pelaku yang melanggar nilai-nilai adab, bukan pada institusinya. PBNU sendiri memastikan tidak memberikan ruang toleransi sedikit pun bagi para pelaku kejahatan tersebut.

"Setiap lembaga pasti memiliki tantangan masing-masing. Tetapi, kita harus membedakan antara lembaga yang menjalankan fungsi pendidikan dengan baik dan oknum yang melakukan pelanggaran," imbuh pria yang juga anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan Tuban ini.

Sebagai langkah konkret, PBNU menyatakan dukungan penuh terhadap penegakan hukum sekaligus penguatan sistem pengawasan internal.

"Pesantren justru harus menjadi tempat yang paling aman bagi santri. Karena itu, pencegahan, pengawasan, dan perlindungan terhadap santri harus terus diperkuat," pungkas Gus Ma'shum. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Gedung Putih menegaskan Presiden AS Donald Trump hanya akan menerima kesepakatan nuklir dengan Iran yang menguntungkan A...

news | 15:00 WIB

Menhan AS Pete Hegseth beri peringatan keras ke China di Shangri-La Dialogue. AS siap gelontorkan anggaran militer Rp26....

news | 14:57 WIB

Megawati Soekarnoputri diperkirakan hadir dalam Puncak Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Gedung Pancasila. ...

news | 14:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto tiba di Jakarta usai kunjungan kenegaraan ke Prancis. Indonesia sukses kantongi 4 kesepakatan ...

news | 14:11 WIB

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta mengungkap dua modus utama yang kerap digunakan calon jamaah haji nonp...

news | 13:59 WIB

Ratusan warga Teheran, Iran, konsisten turun ke jalan selama hampir 90 hari. Mereka menegaskan dukungan penuh pada pemer...

news | 13:53 WIB

Bareskrim Polri sidik dugaan manipulasi data ekspor (under invoicing) sawit oleh PT MMS. Kantor di Jakarta Utara dan gud...

news | 11:15 WIB

Iran menegaskan kesepakatan final dengan Amerika Serikat (AS) terganjal tuntutan berlebihan dari Washington. Simak krono...

news | 09:52 WIB

Pemerintah menyiapkan 24 ribu hektare lahan di Jawa untuk megaproyek PLTS 100 GW target Presiden Prabowo. Investasi temb...

news | 18:52 WIB

Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan 29.400 dapur program Makan Bergizi Gratis lolos verifikasi. BGN jamin efisiensi an...

news | 18:47 WIB