Kelangkaan Obat di Iran Memburuk Akibat Serangan ke Fasilitas Farmasi

Kelangkaan obat di Iran mencapai titik kritis setelah 25 fasilitas farmasi, termasuk pabrik obat kanker, hancur akibat serangan militer. Simak upaya pemerintah dan apoteker setempat dalam menangani krisis ini.

Elara | MataMata.com
Selasa, 28 April 2026 | 12:15 WIB
Penampakan sebuah toko yang hancur akibat serangan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Iran, Selasa (14/4/2026). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa.

Penampakan sebuah toko yang hancur akibat serangan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Iran, Selasa (14/4/2026). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa.

Matamata.com - Krisis kesehatan membayangi Iran setelah sejumlah apotek dilaporkan mengalami kelangkaan obat-obatan krusial. Kondisi ini dipicu oleh rangkaian serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menghantam fasilitas farmasi di berbagai wilayah negara tersebut.

Mengutip laporan RIA Novosti, apoteker asal Teheran, Dr. Pejman Naim, mengungkapkan bahwa kelangkaan kini semakin terasa di tengah dampak konflik yang berkepanjangan.

Otoritas Iran mencatat, sejak 28 Februari lalu, setidaknya 25 fasilitas farmasi telah menjadi sasaran serangan. Fasilitas yang terdampak mencakup pabrik obat kanker, penyakit kardiovaskular, anestesi, dan multiple sclerosis. Bahkan, Institut Pasteur Teheran yang merupakan produsen vaksin utama negara itu, tidak luput dari kerusakan.

"Beberapa obat, seperti untuk diabetes dan penyakit kardiovaskular, sangat langka di pasaran. Stok memang sudah terbatas sejak perang dimulai, namun kini situasinya semakin parah," ujar Naim dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).

Meski situasi kian sulit, Naim menyebut kondisi lapangan sejauh ini masih diupayakan untuk tetap terkendali. Pemerintah Iran telah meluncurkan layanan hotline khusus untuk membantu warga melacak ketersediaan obat dan lokasi apotek yang masih memiliki stok.

Di sisi lain, komunitas apoteker membangun jaringan komunikasi mandiri untuk saling berbagi informasi stok demi membantu pasien. Pemerintah setempat juga terus mengucurkan dukungan bagi sektor farmasi, meski harus terbentur kendala sanksi internasional yang menghambat impor bahan baku dan obat-obatan khusus.

"Perang berdampak sangat merusak. Penjualan obat anjlok sementara harga melonjak tajam, sehingga warga kesulitan menjangkau obat-obatan penting," tambah Naim.

Pihaknya berharap akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dapat segera pulih, terutama jika gencatan senjata tercapai atau konflik berakhir. Sebelumnya, Pemerintah Iran secara konsisten mengecam serangan terhadap fasilitas medis dan farmasi tersebut sebagai bentuk kejahatan perang. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Presiden Prabowo Subianto mengalokasikan Rp4 triliun untuk memperbaiki 1.800 perlintasan kereta api di Jawa pasca-kecela...

news | 12:53 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pasokan BBM nasional stabil di atas standar minimum. Pemerintah siapkan strateg...

news | 12:22 WIB

PT KAI menjamin kompensasi dan seluruh biaya pengobatan 38 korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Be...

news | 08:15 WIB

PT KAI membatalkan sejumlah perjalanan KA Jarak Jauh relasi Bandung-Jakarta akibat tabrakan KRL dan KA Jarak Jauh di Sta...

news | 07:00 WIB

Anggota Komisi IV DPR Rajiv mengapresiasi stok beras nasional yang tembus 5 juta ton, rekor tertinggi dalam sejarah. Swa...

news | 06:00 WIB

Presiden Prabowo Subianto resmi melantik tokoh buruh Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup menggantikan Hanif ...

news | 15:51 WIB

Kemenhaj meminta jemaah haji melaporkan pungutan liar dan melarang KBIHU menawarkan paket wisata ilegal. Jemaah juga waj...

news | 15:47 WIB

SIPRI melaporkan belanja militer global 2025 tembus rekor US$2,89 triliun. Meski anggaran AS turun tipis, pengeluaran mi...

news | 15:00 WIB

Anggota Komisi I DPR RI Yudha Novanza Utama mengapresiasi program Kampung Internet Kemkomdigi dan meminta perluasan jang...

news | 14:54 WIB

Bahlil Lahadalia dan Muhammad Qodari merespons isu reshuffle kabinet Prabowo yang dikabarkan berlangsung Senin (27/4/202...

news | 14:11 WIB