CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani (kanan) memberikan keterangan media di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh
Matamata.com - Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan koreksi pasar modal Indonesia yang mencapai 40 persen dalam beberapa bulan terakhir justru memicu aksi beli investor asing. Penurunan tersebut membuat harga saham emiten domestik menjadi sangat murah dan atraktif.
"Memang kalau kita lihat, koreksi selama beberapa bulan ini hampir 36 sampai 40 persen di pasar modal kita menyebabkan pricing dari perusahaan-perusahaan kita menjadi sangat affordable, sangat baik, bahkan sangat murah," kata Rosan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Penurunan tajam indeks tersebut kini dinilai menjadi titik balik bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hebat.
Rosan, yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi, mengaitkan pembalikan tren negatif ini dengan hukum ekonomi dasar. Menurutnya, para pelaku pasar global langsung bergerak saat melihat instrumen investasi berada di bawah harga wajar (undervalued).
Indikator pasar saat ini menunjukkan posisi harga saham gabungan berada jauh di bawah nilai buku (price-to-book value) aset emiten. Kondisi volatilitas ini pun dimanfaatkan oleh pengelola dana global untuk mengumpulkan portofolio saham, terutama di sektor perbankan dan industri utama domestik.
"Kembali lagi kepada hukum ekonomi. Pada saat mereka melihat fundamental kita bagus, perbankan tumbuh baik, dividen dan yield-nya bagus, sementara harganya jauh di bawah harga pasar, ya otomatis mereka melihat ini adalah time to buy," ujar Rosan.
Ia menambahkan, tren penguatan IHSG dan rupiah dalam beberapa hari terakhir bergerak cepat pasca-akumulasi beli oleh investor luar negeri tersebut.
Pemerintah menegaskan bahwa struktur fundamental ekonomi jangka menengah dan panjang Indonesia tetap kuat untuk menopang pertumbuhan pasar keuangan nasional.
Meskipun penurunan nilai aset finansial domestik sempat memicu kekhawatiran koreksi berkelanjutan di bursa efek, tingkat imbal hasil (dividend yield) institusi keuangan dalam negeri yang stabil terbukti mampu menjadi jangkar penahan modal asing.
Pemerintah memproyeksikan aktivitas transaksi pembelian saham oleh pemodal eksternal ini akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada sisa kuartal tahun ini. (Antara)