Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian. /ANTARA/Desca Lidya Natalia.
Matamata.com - Pemerintah China menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan komunitas internasional dalam menjaga keamanan energi global. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian situasi di Selat Hormuz yang mengganggu lalu lintas pasokan minyak olahan dan Liquefied Natural Gas (LNG) internasional.
"China siap menjaga komunikasi dengan semua pihak guna bersama-sama menjaga keamanan energi global serta stabilitas rantai industri dan pasokan," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (29/4).
Lin Jian menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah telah menekan pasokan bahan bakar dunia. Menurutnya, solusi fundamental dari krisis ini adalah penghentian konflik secara permanen.
"Kunci untuk menyelesaikan masalah ini secara mendasar adalah mencegah terulangnya kembali konflik terbuka. Kami mendesak pihak terkait untuk segera mencapai gencatan senjata yang menyeluruh guna membendung gejolak yang memukul ekonomi global," tambahnya.
Peningkatan Kuota Ekspor Mei 2026 Sebagai bentuk nyata, China telah menyetujui ekspor bahan bakar sebanyak 500.000 metrik ton untuk periode Mei 2026 ke wilayah di luar Hong Kong. Angka ini naik hampir dua kali lipat dibanding pengiriman April, meski masih di bawah rata-rata volume tahun lalu.
Sebelumnya, Beijing memperketat keran ekspor sejak Maret guna melindungi pasar domestik dari dampak penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Sejumlah negara Asia-Pasifik, termasuk Australia, Selandia Baru, Bangladesh, hingga Vietnam, dijadwalkan menerima pasokan ini. Peningkatan volume ekspor tersebut merupakan hasil lobi perusahaan minyak negara China menyusul melemahnya permintaan domestik.
Dampak Kendaraan Listrik Menariknya, penurunan konsumsi BBM di dalam negeri China salah satunya dipicu oleh masifnya penggunaan kendaraan listrik (EV). Hal ini mengurangi tekanan permintaan bensin domestik, sehingga China memiliki ruang lebih untuk memenuhi permintaan ekspor yang tengah melonjak tajam.
Dari total 500.000 ton alokasi ekspor, mayoritas diberikan kepada perusahaan penyulingan negara, Sinopec. Sementara itu, PetroChina mendapat kuota 150.000 ton dan CNOOC sebesar 40.000 ton. Produk diesel dan bahan bakar jet diprediksi mendominasi sekitar 40 persen dari total volume tersebut.
Sebagai importir minyak terbesar dunia, China dinilai memiliki posisi tawar yang kuat dalam menghadapi krisis pasokan dibanding negara tetangganya. Strategi diversifikasi pemasok dan investasi besar pada cadangan domestik menjadi kunci ketahanan energi Beijing saat ini. (Antara)
Baca Juga: Kemendag Perketat Impor Komoditas Pertanian Mulai 8 Mei 2026, Ini Daftar Aturannya