ARTJOG 2026 Angkat Tema Ars Longa: Generatio, Soroti Relasi Antargenerasi dalam Seni

Sebagai pembuka trilogi, ARTJOG 2026 mengusung tema Ars Longa: Generatio.

Yohanes Endra | MataMata.com
Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:53 WIB
ARTJOG 2026. (MataMata.com)

ARTJOG 2026. (MataMata.com)

Matamata.com - Festival seni rupa kontemporer ARTJOG kembali digelar pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Memasuki babak kuratorial baru, penyelenggaraan tahun ini menandai dimulainya rangkaian tema tiga tahunan bertajuk Ars Longa Trilogia yang dikuratori oleh Farah Wardani untuk periode 2026–2028.

Konsep besar tersebut berangkat dari pemaknaan ulang frasa Ars Longa atau “seni itu panjang”, yang menegaskan bahwa seni selalu memiliki relevansi dengan perubahan sosial, budaya, maupun politik yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Sebagai pembuka trilogi, ARTJOG 2026 mengusung tema Ars Longa: Generatio. Tema ini diterjemahkan oleh seniman komisi Roby Dwi Antono melalui sejumlah karya yang akan mengisi area fasad bangunan, instalasi patung, hingga ruang imersif yang dirancang khusus untuk pengunjung.

Tahun ini, ARTJOG menghadirkan karya dari 25 seniman undangan, baik individu maupun kolektif. Selain itu, terdapat 19 seniman muda berusia di bawah 35 tahun yang terpilih melalui proses seleksi terbuka. Program ARTJOG Kids juga kembali hadir dengan menampilkan karya dari 52 peserta anak dan remaja berusia 6 hingga 15 tahun.

Tema Generatio dikembangkan melalui dua pendekatan utama, yakni Dialogus dan Practica. Dialogus menitikberatkan pada pertukaran gagasan antargenerasi yang diwujudkan lewat karya kolaboratif. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana seniman tidak hanya berkarya, tetapi juga membangun ruang belajar dan jejaring bagi generasi berikutnya.

Sementara itu, Practica menampilkan praktik-praktik artistik individual yang merefleksikan berbagai isu kontemporer, perkembangan wacana, serta semangat zaman yang hidup di tengah generasi masa kini.

ARTJOG 2026. (MataMata.com)
ARTJOG 2026. (MataMata.com)

Pada saat yang sama, kawasan JNM juga akan menjadi lokasi penyelenggaraan edisi kedua Chapter Jogja, sebuah art fair yang melibatkan galeri dari dalam dan luar negeri bersama berbagai komunitas seni. Kehadiran program ini diharapkan memperkuat posisi JNM sebagai salah satu pusat aktivitas seni dan budaya sekaligus mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem seni, mulai dari pameran, pasar seni, hingga dinamika ruang kota.

ARTJOG juga kembali menjadi bagian dari perayaan budaya tahunan yang dikenal sebagai “Lebaran Seni”. Momentum tersebut didukung oleh Jogja Art Weeks (JAW), platform yang menghimpun berbagai agenda seni dan budaya di Yogyakarta serta wilayah sekitarnya. Pada tahun ini, JAW berkolaborasi dengan Festicity, program yang diinisiasi Forum Jogja Festival, guna memperkuat konektivitas antar-festival yang berlangsung selama periode ARTJOG.

Komitmen terhadap inklusivitas juga diwujudkan melalui program Love ARTJOG. Program ini mengajak para pelaku seni difabel untuk mengembangkan praktik berkesenian bersama sejumlah komunitas di Yogyakarta. Kegiatan tersebut terlaksana berkat kerja sama dengan Tab Space, lembaga sosial asal Bandung yang fokus mendukung seniman dan desainer difabel.

Selain itu, Love ARTJOG akan mengadakan pelatihan bagi pelajar tingkat SD hingga SMA agar dapat terlibat sebagai pendamping bagi pengunjung difabel selama pameran berlangsung. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ruang seni yang lebih ramah dan terbuka bagi semua kalangan.

Baca Juga: Reza Rahadian Buka-bukaan Soal Kebahagiaan Lewat Karyanya di di ArtJog 2025

Perhatian terhadap isu lingkungan hadir melalui program The Others Lab by TACO yang bekerja sama dengan Studio Banda dari Bali. Program ini mengajak masyarakat mengeksplorasi berbagai persoalan lingkungan melalui pendekatan desain dan eksperimen material yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejumlah diskusi dan lokakarya terbuka juga akan digelar untuk memperluas partisipasi publik.

Sementara itu, program performa•ARTJOG yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menghadirkan beragam pertunjukan dari dalam maupun luar negeri. Kolaborasi dengan IFI Yogyakarta akan menghadirkan musisi Prancis Violet Indigo dan grup musik Watchdog. Adapun kerja sama dengan Project Eleven Australia melibatkan Monica Lim, Patrick Hartono, Morgan May, Serenata Choir ISI Yogyakarta, hingga Australian Art Orchestra.

Pengunjung juga berkesempatan menyaksikan dua karya pertunjukan multidisiplin, yakni Daughters of the Sea dari Artistique Théâtre, Prancis, serta Ma’ Bua’ karya koreografer Densiel Lebang. Seluruh pertunjukan dalam program performa•ARTJOG akan berlangsung setiap akhir pekan selama festival berlangsung.

Selain pameran dan pertunjukan, ARTJOG 2026 turut menghadirkan sejumlah program pendukung seperti Exhibition Tour, Meet the Artist, dan ARTCARE Indonesia. Pada program Merchandise Project, ARTJOG menggandeng sejumlah nama seperti Sirin Farid Stevy, Didit Hediprasetyo, Pable Indonesia, Dagadu, dan Rumah Atsiri Indonesia untuk menghadirkan produk kolaboratif.

ARTJOG 2026 terselenggara dengan dukungan berbagai mitra, di antaranya Bakti Budaya Djarum Foundation, Bank BRI, Didit Hediprasetyo Foundation, Pertamina, serta sejumlah sponsor lainnya. Informasi lengkap mengenai program dan jadwal kegiatan dapat diakses melalui kanal resmi ARTJOG.

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Trailer yang ditampilkan bukan hanya menghadirkan jumpscare, tapi membangun rasa tidak nyaman yang perlahan merayap....

life | 11:05 WIB

Kehadiran Aurora Ribero sukses membawa bumbu romansa anak muda yang segar sekaligus penuh dilema emosional....

life | 16:54 WIB

Bukan sekadar tontonan biasa, film ini viral karena berhasil menjelma menjadi pelantang suara bagi setiap anggota keluar...

life | 16:34 WIB

Refleksi Mendalam dari Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan. Siap Tayang 13 mei 2026!...

life | 16:05 WIB

Film ini memotret realitas tajam tentang ambisi, harga sebuah pilihan, dan bagaimana rasanya berdiri tegak saat semua or...

life | 13:08 WIB

Badut Gendong membawakan kisah Darso dan Darsi, sepasang penari Badut Gendong yang selalu dihadapi ketidakadilan dari or...

life | 12:55 WIB

Produksi ini menjadi langkah besar bagi perkembangan teater musikal Indonesia....

life | 13:43 WIB

Daya pikat terbesar Badut Gendong terletak pada posisinya sebagai bagian dari jagat sinematik Qodrat....

life | 12:18 WIB

Jagat Universe Qodrat yang telah sukses mengumpulkan lebih dari 3,9 juta penonton ini kini terasa jauh lebih luas, lebih...

life | 17:58 WIB

Badut Gendong adalah film horor-action karya Charles Gozali yang menghadirkan teror menegangkan sekaligus drama emosiona...

life | 14:26 WIB