Habiburokhman Nilai KUHAP Baru Jadi Titik Awal Reformasi Kepolisian

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menilai penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru mulai awal 2026 menjadi fondasi awal percepatan reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Elara | MataMata.com
Senin, 22 Desember 2025 | 13:10 WIB
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman memberikan keterangan pers terkait RUU Penyesuaian Pidana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/11/2025). Komisi III DPR menyatakan bahwa RUU Penyesuaian Pidana itu harus dibentuk untuk menyesuaikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang segera diberlakukan pada awal 2026. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman memberikan keterangan pers terkait RUU Penyesuaian Pidana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/11/2025). Komisi III DPR menyatakan bahwa RUU Penyesuaian Pidana itu harus dibentuk untuk menyesuaikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang segera diberlakukan pada awal 2026. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.

Matamata.com - Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menilai penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru mulai awal 2026 menjadi fondasi awal percepatan reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, Habiburokhman menyampaikan bahwa KUHAP baru mengusung prinsip keadilan restitutif dan restoratif.

Melalui pendekatan tersebut, Polri diharapkan tidak lagi diposisikan sebagai alat kekuasaan, melainkan menjalankan peran sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

“Pemberlakuan KUHAP baru adalah langkah awal percepatan reformasi kepolisian. Komisi III juga akan merevisi Undang-Undang Polri untuk memperkuat fungsi Polri dalam melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat,” ujar Habiburokhman.

Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas sikap Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) yang mengusulkan pembubaran Komisi Percepatan Reformasi Polri.

Habiburokhman menegaskan pihaknya menghargai berbagai masukan dari masyarakat, termasuk dari unsur yang tergabung dalam komisi tersebut. Namun demikian, ia menilai perlu adanya pelurusan agar usulan yang disampaikan tidak bertentangan dengan ketentuan konstitusi sebagai amanat reformasi.

“Perlu diluruskan agar usulan tersebut tidak mengangkangi aturan konstitusi yang merupakan amanat reformasi,” katanya.

Ia menjelaskan, terdapat dua poin utama reformasi kepolisian yang tertuang dalam Pasal 30 ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen awal reformasi serta TAP MPR Nomor VII Tahun 2000.

Pertama, Polri ditempatkan langsung di bawah Presiden dengan tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban melalui fungsi perlindungan, pengayoman, pelayanan masyarakat, serta penegakan hukum.

“Sedangkan poin kedua adalah pengangkatan Kapolri merupakan wewenang Presiden dengan persetujuan DPR,” imbuhnya.

Baca Juga: Kemenhut Izinkan Warga Manfaatkan Kayu Hanyut Pascabanjir di Aceh hingga Sumbar

Menurut Habiburokhman, kedua ketentuan tersebut menjadi koreksi atas praktik pada masa Orde Baru yang menempatkan kepolisian sebagai instrumen represif kekuasaan, sekaligus memperkuat mekanisme check and balance antara eksekutif dan legislatif.

Meski demikian, ia menilai terdapat persoalan mendasar karena KUHAP lama sebagai landasan utama kerja Polri tidak mengalami perubahan meski reformasi telah berjalan hampir tiga dekade.

“Undang-Undang Polri yang dibentuk tahun 2002 pun belum mengatur secara maksimal dua poin amanat reformasi. Situasi ini jelas menyulitkan Polri untuk mereformasi diri,” ucapnya.

Karena itu, Habiburokhman menyambut baik disahkannya KUHAP baru yang telah disetujui DPR dan ditandatangani Presiden Prabowo Subianto untuk mulai berlaku tahun depan.

“Alhamdulillah dengan kerja sama yang baik antara DPR dan Presiden, akhirnya kita akan memberlakukan KUHAP baru yang sangat reformis,” katanya.

Ia meyakini penerapan KUHAP baru menjadi pintu awal reformasi kepolisian melalui jalur konstitusional. Sejalan dengan itu, Komisi III DPR RI juga akan melakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri.

“Hal lain yang akan menjadi poin revisi Undang-Undang Polri adalah pembaruan soal usia pensiun yang disesuaikan dengan pengaturan serupa di Undang-Undang Kejaksaan dan Undang-Undang TNI,” ujar Habiburokhman.

“Secara umum, Komisi III akan mengeluarkan rekomendasi soal percepatan reformasi Polri berdasarkan masukan masyarakat,” pungkasnya. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Presiden Prabowo Subianto resmi meresmikan 1.151 km jalan daerah di 37 provinsi dari Sampang. Proyek Inpres 2025 ini dit...

news | 12:22 WIB

Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja satu hari ke Jawa Timur untuk meresmikan 1.151 km proyek Jalan Daera...

news | 11:15 WIB

Lionel Messi resmi memecahkan rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia usai mencet...

news | 08:15 WIB

Perundingan damai Iran dan AS di Swiss sempat diwarnai aksi walk out akibat ancaman Donald Trump. Namun, Menlu Iran sebu...

news | 07:15 WIB

Pemerintah resmi membebaskan bea masuk impor LPG industri, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat menjadi 0% demi t...

news | 06:00 WIB

Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PLN segera memitigasi dampak pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa yang meresahka...

news | 17:12 WIB

Mendag Budi Santoso siapkan strategi jaga harga Minyakita tetap Rp15.700/liter dengan menggenjot distribusi BUMN Pangan ...

news | 15:37 WIB

Wamendagri Bima Arya menegaskan Gerakan Indonesia ASRI di Jayapura adalah arahan langsung Presiden Prabowo yang wajib di...

news | 14:08 WIB

Kementan pamerkan teknologi bioreaktor pengubah CPO menjadi bahan bakar nabati B100 di PENAS XVII Gorontalo sebagai lang...

news | 12:57 WIB

Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie datangi Beijing untuk jawab langsung surat keluhan investor China kepada Presiden Prabow...

news | 12:26 WIB