Ilustrasi - Penjual ikan memperlihatkan ikan gabus (Channa striata) yang dijualnya dengan harga Rp45 ribu per kilogram, di Pasar Flamboyan, Pontianak, Kalbar. ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG
Matamata.com - Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ekowati Chasanah, mengungkapkan bahwa ikan gabus (Channa striata) memiliki profil gizi unggulan sebagai "superfood" asli Indonesia. Ikan ini diketahui kaya akan protein berkualitas tinggi yang mudah dicerna serta senyawa bioaktif yang mendukung kesehatan tubuh.
Ekowati menjelaskan, ikan gabus sangat relevan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan dan pasien dalam masa pemulihan. Keunggulannya terletak pada kandungan asam amino lengkap, baik esensial maupun non-esensial.
"Kombinasi kandungan albumin dan zat gizi lain pada ikan gabus berpotensi mendukung proses penyembuhan luka, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta membantu meningkatkan kondisi kesehatan secara umum," ujar Ekowati dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/4).
Salah satu komponen kunci yang menjadi sorotan adalah albumin. Sebagai protein plasma, albumin berperan penting menjaga keseimbangan cairan tubuh dan membantu transportasi hormon. Tingginya kadar albumin, ditambah asam amino seperti glisin, prolin, dan alanin, menjadikan ikan gabus sangat efektif untuk mempercepat pemulihan pascaoperasi.
Selain itu, Ekowati memaparkan bahwa ikan gabus mengandung senyawa bioaktif seperti peptida, asam lemak, dan mikronutrien yang memiliki efek antihipertensi. Hal ini membuka peluang besar bagi ikan gabus untuk digunakan sebagai bahan baku produk kesehatan berbasis pangan fungsional.
Tantangan Pascapanen dan Hilirisasi Meski kaya manfaat, Ekowati mengingatkan bahwa kualitas nutrisi ikan gabus sangat bergantung pada penanganan pascapanen. Ia menekankan pentingnya metode pengolahan yang tepat, seperti pemanasan tidak langsung, untuk menjaga stabilitas gizi dan senyawa aktif.
"Standardisasi berbasis riset menjadi kunci agar produk turunan tetap berkualitas tinggi," tambahnya.
Dari sisi ekonomi, hilirisasi ikan gabus dinilai mampu memperkuat industri pangan lokal dan mendukung kemandirian pangan nasional. Pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal akan mengurangi ketergantungan pada produk impor sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
Namun, pengembangan ini tetap memerlukan dukungan riset berkelanjutan, inovasi teknologi pengolahan, serta pengujian keamanan dan efektivitas produk secara menyeluruh. (Antara)
Baca Juga: KPK Ungkap Alasan Pemanggilan Staf PBNU dalam Kasus Korupsi Kuota Haji