Menkeu Purbaya: Fokus Ekonomi RI Bergeser ke Pertumbuhan Produktif dan Berkelanjutan

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia tumbuh 5,4-6% pada 2026 melalui strategi hilirisasi, penguatan manufaktur, dan peran Danantara.

Elara | MataMata.com
Selasa, 21 April 2026 | 07:15 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (ANTARA/HO-Kementerian Keuangan)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (ANTARA/HO-Kementerian Keuangan)

Matamata.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia kini tengah menggeser fokus pembangunan ekonomi. Tidak lagi sekadar menjaga stabilitas, pemerintah kini membidik pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (20/4), Purbaya menjelaskan bahwa transformasi ini didorong oleh tiga pilar utama: investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.

“Kami mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan efisiensi. Ke depan, pertumbuhan Indonesia tidak hanya stabil, tetapi juga lebih produktif, berkelanjutan, terdiversifikasi, dan tangguh,” ujar Menkeu di sela rangkaian agenda IMF-World Bank Spring Meeting di Washington DC, Amerika Serikat.

Purbaya mengklaim kinerja ekonomi nasional saat ini relatif lebih kuat dibandingkan negara-negara anggota G20 dan negara berkembang lainnya. Ketahanan ini dibuktikan dengan pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang tetap terjaga.

Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai shock absorber atau peredam kejut untuk melindungi daya beli masyarakat. Di saat yang sama, pemerintah tetap disiplin menjaga defisit fiskal di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN," tambah Bendahara Negara tersebut.

Dalam forum IMFC Restricted Breakfast Meeting, Purbaya juga menyampaikan optimismenya bahwa ekonomi Indonesia mampu mencetak pertumbuhan di angka 5,4 hingga 6 persen pada 2026, meski di tengah ketegangan global.

Optimisme ini bersandar pada fondasi ekonomi nasional yang kokoh. Sebagai catatan, saat banyak negara mengalami perlambatan, ekonomi Indonesia justru tetap tumbuh 5,11 persen pada 2025. Selain itu, neraca perdagangan per Februari 2026 masih mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS, sekaligus melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut.

Meski indikator makro menunjukkan tren positif, Menkeu menegaskan pemerintah tetap waspada terhadap dinamika global, terutama ketegangan di Timur Tengah yang berisiko mengganggu harga energi dunia.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah memprioritaskan pembentukan bantalan fiskal (fiscal cushion) untuk meredam guncangan harga. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas harga bahan bakar bersubsidi dan melindungi daya beli masyarakat luas. (Antara)

Baca Juga: Danantara Percepat Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik di Palembang

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Menteri Perdagangan Budi Santoso siapkan 3 Permendag baru untuk ekspor CPO, batu bara, dan ferroalloy. Mulai 1 Januari 2...

news | 15:18 WIB

IHSG hari ini ambles lebih dari 4 persen ke level 5.694. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan pemerintah tak siapkan int...

news | 14:18 WIB

Presiden ke-6 RI SBY menegaskan dalam Asia Grassroots Forum 2026 bahwa UMKM adalah agenda ekonomi strategis dan tameng u...

news | 13:41 WIB

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menemui Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta di Dili untuk mematangkan rencana kunjungan ...

news | 13:15 WIB

KPK menduga Wamen Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim menerima aliran uang pemerasan pengurusan KITAS/KITAP ratusan ...

news | 11:57 WIB

Istana angkat bicara terkait penahanan Wamen Imipas Silmy Karim oleh KPK dan penetapan tersangka eks pimpinan BGN oleh K...

news | 10:45 WIB

KPK resmi menahan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Silmy Karim terkait kasus dugaan korupsi pengurusan...

news | 09:19 WIB

Presiden Prabowo Subianto panggil BPKP dan PPATK setelah mencium indikasi penyelewengan oleh pimpinan di Badan Gizi Nasi...

news | 08:26 WIB

Eks Wamenaker Immanuel Noel Ebenezer menghadapi sidang vonis kasus dugaan pemerasan sertifikat K3 dan gratifikasi di PN ...

news | 07:15 WIB

Anggota DPR RI Yan Mandenas meminta Kepala BGN baru Nanik S. Deyang fokus benahi distribusi dan kualitas program Makan B...

news | 06:00 WIB