MK Perjelas Perlindungan Hukum Wartawan: Sengketa Harus Lewat Dewan Pers Dahulu

MK perjelas Pasal 8 UU Pers. Wartawan kini terlindungi dari pidana langsung sebelum melalui mekanisme sengketa di Dewan Pers. Simak selengkapnya.

Elara | MataMata.com
Senin, 19 Januari 2026 | 14:15 WIB
Mahkamah Konstitusi menggelar sidang pengucapan putusan dan/atau ketetapan di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta, Senin (19/1/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)

Mahkamah Konstitusi menggelar sidang pengucapan putusan dan/atau ketetapan di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta, Senin (19/1/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)

Matamata.com - Mahkamah Konstitusi (MK) memperjelas makna "perlindungan hukum" bagi wartawan dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Melalui putusan terbaru, MK menegaskan bahwa wartawan yang sedang menjalankan profesinya tidak dapat langsung dijerat sanksi pidana maupun perdata sebelum mekanisme sengketa di Dewan Pers tuntas.

“Mengabulkan permohonan para pemohon untuk sebagian,” ujar Ketua MK Suhartoyo saat membacakan amar putusan Perkara Nomor 145/PUU-XXIII/2025 di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Dalam putusannya, Mahkamah menyatakan Pasal 8 UU Pers bertentangan dengan UUD 1945 secara bersyarat jika tidak dimaknai sebagai perlindungan yang mencakup penerapan restorative justice.

Artinya, sanksi hukum hanya bisa menjadi langkah terakhir jika mekanisme Hak Jawab, Hak Koreksi, dan penilaian Kode Etik Jurnalistik di Dewan Pers tidak mencapai kesepakatan.

Sebelumnya, Pasal 8 UU Pers hanya berbunyi singkat: "Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum." MK menilai rumusan tersebut terlalu abstrak dan bersifat dekoratif, sehingga rentan memicu kriminalisasi terhadap karya jurnalistik.

Hakim Konstitusi M. Guntur Hamzah menjelaskan bahwa tanpa pemaknaan yang konkret, norma tersebut berpotensi langsung menjerat wartawan tanpa melalui prosedur khusus yang diatur dalam UU Pers.

“Pemaknaan ini harus memastikan bahwa tindakan hukum terhadap wartawan wajib mengedepankan mekanisme dan prinsip perlindungan pers,” tegas Guntur.

Mahkamah menggarisbawahi bahwa wartawan memiliki posisi rentan karena aktivitasnya sering bersinggungan dengan kepentingan kekuasaan, politik, dan ekonomi. Oleh karena itu, perlindungan afirmatif ini dipandang bukan sebagai keistimewaan, melainkan instrumen keadilan substantif.

Putusan ini lahir dari permohonan yang diajukan oleh Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) dan seorang jurnalis media nasional, Rizky Suryarandika. Meski dikabulkan, putusan ini tidak bulat.

Baca Juga: Isu Pilkada Dipilih DPRD Berakhir, Dasco: Tak Ada Revisi UU Pilkada Tahun Ini!

Tiga Hakim Konstitusi, yakni Saldi Isra, Daniel Yusmic P. Foekh, dan Arsul Sani, menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion) dan menilai permohonan tersebut seharusnya ditolak. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Mendikdasmen Abdul Mu'ti tegaskan sanksi bagi pengawas TKA yang melanggar aturan, termasuk oknum yang Live TikTok dan me...

news | 12:00 WIB

Wapres Gibran Rakabuming Raka mengawali kunker di Papua Tengah dengan atribut adat. Agenda utama meliputi peninjauan Ban...

news | 11:43 WIB

Anggota Komisi I DPR Yudha Novanza Utama meminta pemerintah segera siapkan rencana darurat untuk lindungi 934 WNI di Leb...

news | 10:30 WIB

Pakar ekonomi UGM dan Unima menilai kenaikan harga BBM non-subsidi per 18 April 2026 sebagai langkah koreksi wajar di te...

news | 09:15 WIB

Kementerian Kebudayaan peringati 71 tahun KAA. Menbud Fadli Zon tekankan pentingnya budaya untuk perdamaian dunia dan us...

news | 08:15 WIB

Ketua DPRD Kaltara Achmad Djufrie menekankan pentingnya harmoni nasional dan daerah usai mengikuti retret Lemhannas 2026...

news | 07:15 WIB

Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani persilakan warga cek stok beras di gudang. Per April 2026, cadangan beras nasional menc...

news | 06:00 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman sebut ekspor CPO RI melonjak 26,40% di awal 2026. Indonesia kini kuasai 60% pasar sawit dunia...

news | 12:35 WIB

Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 503 Ketua DPRD se-Indonesia di Magelang. Dalam arahannya, Prabowo menekankan pent...

news | 12:31 WIB

Menhaj Mochamad Irfan Yusuf melantik PPIH Embarkasi 2026. Ia menekankan perlindungan bagi jamaah lansia, integritas petu...

news | 12:28 WIB