Hadapi Krisis Timur Tengah, RI Mulai Alihkan Impor Minyak dari Amerika Serikat

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa Indonesia telah mulai mengalihkan sumber impor minyak mentah (crude) dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS). Langkah ini dilakukan secara bertahap guna menjaga st

Elara | MataMata.com
Kamis, 05 Maret 2026 | 10:45 WIB
Hadapi Krisis Timur Tengah, RI Mulai Alihkan Impor Minyak dari Amerika Serikat

Hadapi Krisis Timur Tengah, RI Mulai Alihkan Impor Minyak dari Amerika Serikat

matamata.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa Indonesia telah mulai mengalihkan sumber impor minyak mentah (crude) dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS). Langkah ini dilakukan secara bertahap guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” ujar Bahlil selepas acara buka puasa bersama di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026) malam.

Bahlil menjelaskan, pengalihan ini tidak bisa dilakukan secara instan karena keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah di dalam negeri. Merespons eskalasi perang antara AS-Israel dengan Iran, Pemerintah Indonesia mempercepat pembangunan infrastruktur energi.

Kejar Standar Internasional 90 Hari Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas penyimpanan minyak nasional secara signifikan. Dari yang semula hanya bertahan untuk 25–26 hari, akan ditingkatkan menjadi 90 hari atau tiga bulan, sesuai dengan standar internasional.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan beliau memberikan arahan agar segera dibangun. Kita butuh survival dalam kondisi global saat ini,” tegas Bahlil.

Lokasi pembangunan storage tersebut direncanakan berada di wilayah Sumatera. Saat ini, proyek tersebut sedang dalam tahap studi kelayakan (feasibility study) dan ditargetkan mulai konstruksi pada tahun ini dengan dukungan investor asing.

Dampak Penutupan Selat Hormuz Ketahanan energi Indonesia kini menjadi pertaruhan menyusul situasi di Timur Tengah yang semakin tidak menentu. Pasca serangan udara AS-Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2), Iran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz secara efektif.

Selat ini merupakan jalur vital yang melayani seperlima perdagangan minyak dunia, termasuk ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Blokade di jalur tersebut mengancam distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari secara global.

Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan tersebut—informasi yang kemudian dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran. Langkah Indonesia mengamankan pasokan dari AS dinilai sebagai upaya mitigasi agar ekonomi domestik tidak lumpuh akibat krisis di jalur logistik energi global tersebut. (Antara)

Baca Juga: DPR Desak Mitigasi Penerbangan Haji dan Umrah di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Sekjen PBB Antonio Guterres sebut Indonesia sebagai pilar multilateralisme dan penjaga perdamaian dunia. Simak apresiasi...

news | 09:18 WIB

OJK kaji dampak usulan MSCI ubah status pasar saham Indonesia ke Standalone Market. OJK pastikan ketahanan perbankan nas...

news | 16:10 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman membagi tugas dua Wamentan, Alim Setiawan dan Saleh Mustafa, untuk mempercepat target swasemb...

news | 14:04 WIB

PT KCIC memastikan seluruh kegiatan operasional dan perawatan Kereta Cepat Whoosh kini 100% ditangani oleh SDM Indonesia...

news | 13:06 WIB

Hasil survei Adidaya Institute mencatat AHY sebagai Menko dengan kinerja terbaik (38,5%). Namun, 49,8% publik mendesak P...

news | 11:00 WIB