Menkeu Purbaya: APBN 2026 Masih Tangguh Hadapi Dampak Krisis Global

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memastikan APBN 2026 kuat hadapi krisis global dan konflik Timur Tengah, didukung pertumbuhan penerimaan pajak 30 persen.

Elara | MataMata.com
Rabu, 04 Maret 2026 | 06:15 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (ANTARA/Fathur Rochman)

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (ANTARA/Fathur Rochman)

Matamata.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap kokoh menghadapi potensi krisis global yang berkepanjangan, termasuk dampak eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kepastian tersebut disampaikan Purbaya usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026) malam. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah telah mematangkan berbagai skenario ketahanan anggaran jika krisis berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.

"Kami membahas skenario jika krisis ini berkepanjangan, apakah anggaran kita tahan atau tidak. Berdasarkan analisis terkini, kondisi fiskal kita masih sangat baik. Jadi, sejauh ini tidak ada masalah," ujar Purbaya kepada awak media.

Purbaya menjelaskan, salah satu penyokong utama ketahanan fiskal Indonesia adalah performa penerimaan negara yang impresif pada awal tahun. Tercatat, penerimaan dari sektor pajak serta bea dan cukai pada periode Januari-Februari 2026 tumbuh signifikan mencapai 30 persen.

"Angka itu sangat signifikan. Ini menunjukkan adanya perbaikan nyata pada roda ekonomi serta kepatuhan wajib pajak dan aktivitas di sektor bea cukai," jelasnya.

Menanggapi ketahanan ekonomi nasional di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Menkeu menyebut pemerintah telah melakukan simulasi terhadap fluktuasi harga minyak mentah untuk satu tahun anggaran.

Menurutnya, APBN masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan harga minyak pada level tertentu. Namun, pemerintah tetap waspada dan siap mengambil langkah taktis jika terjadi lonjakan harga yang ekstrem.

"Kenaikan harga minyak masih bisa kita serap (absorb). Namun, jika lonjakannya sudah masuk kategori ekstrem, tentu akan kami hitung ulang untuk penyesuaian kebijakan fiskal," pungkas Purbaya. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Anggota Komisi III DPR Rikwanto mengusulkan pembentukan badan khusus dalam RUU Perampasan Aset untuk mencegah penyusutan...

news | 15:15 WIB

Pendaftaran Manajer Kopdes Merah Putih 2026 tembus 220 ribu orang dalam 4 hari. Simak update progres pembangunan dan reg...

news | 14:15 WIB

Jamintel Kejaksaan Agung ajak masyarakat awasi program Makan Bergizi Gratis. Laporkan makanan basi atau tak layak lewat ...

news | 13:25 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu'ti tegaskan sanksi bagi pengawas TKA yang melanggar aturan, termasuk oknum yang Live TikTok dan me...

news | 12:00 WIB

Wapres Gibran Rakabuming Raka mengawali kunker di Papua Tengah dengan atribut adat. Agenda utama meliputi peninjauan Ban...

news | 11:43 WIB

Anggota Komisi I DPR Yudha Novanza Utama meminta pemerintah segera siapkan rencana darurat untuk lindungi 934 WNI di Leb...

news | 10:30 WIB

Pakar ekonomi UGM dan Unima menilai kenaikan harga BBM non-subsidi per 18 April 2026 sebagai langkah koreksi wajar di te...

news | 09:15 WIB

Kementerian Kebudayaan peringati 71 tahun KAA. Menbud Fadli Zon tekankan pentingnya budaya untuk perdamaian dunia dan us...

news | 08:15 WIB

Ketua DPRD Kaltara Achmad Djufrie menekankan pentingnya harmoni nasional dan daerah usai mengikuti retret Lemhannas 2026...

news | 07:15 WIB

Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani persilakan warga cek stok beras di gudang. Per April 2026, cadangan beras nasional menc...

news | 06:00 WIB