Prabowo Subianto Bicara Militerisme dan Pentingnya Kritik bagi Pemimpin

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk bersikap terbuka terhadap kritik dan tidak ragu melakukan evaluasi diri. Hal ini disampaikan Presiden merespons adanya kekhawatiran sejumlah kalangan yang menilai kepemimpinannya berpotensi mengh

Elara | MataMata.com
Selasa, 06 Januari 2026 | 09:15 WIB
Prabowo Subianto Bicara Militerisme dan Pentingnya Kritik bagi Pemimpin

Prabowo Subianto Bicara Militerisme dan Pentingnya Kritik bagi Pemimpin

matamata.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk bersikap terbuka terhadap kritik dan tidak ragu melakukan evaluasi diri. Hal ini disampaikan Presiden merespons adanya kekhawatiran sejumlah kalangan yang menilai kepemimpinannya berpotensi menghidupkan kembali militerisme di Indonesia.

Dalam pidatonya di Perayaan Natal Nasional Tahun 2025 di Jakarta, Senin (5/1/2026) malam, Presiden meyakini bahwa kritik dan koreksi merupakan instrumen penting yang menjaga seorang pemimpin agar tetap berada di jalur yang benar.

"Kritik dan koreksi adalah penyelamat. Jadi, saya berterima kasih kalau ada yang berteriak: 'Prabowo mau hidupkan kembali militerisme!' Wah, baru saya koreksi. Apa benar? Kita panggil ahli hukum, kita lihat di mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter," ujar Prabowo.

Presiden menyatakan rasa syukurnya saat menerima masukan dari berbagai pihak. Baginya, pihak-pihak yang melontarkan kritik sesungguhnya sedang membantu menjaga kewibawaan dan keamanan posisinya sebagai kepala negara.

"Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tetapi sesungguhnya itu mengamankan kita," imbuhnya.

Analogi Kancing dan Tanda Pangkat Untuk menggambarkan pentingnya koreksi, Presiden menceritakan pengalaman pribadinya dengan para ajudan dan anak buah. Ia mencontohkan hal sederhana seperti kancing seragam yang lupa terpasang hingga tanda pangkat yang tertinggal saat masih aktif berdinas di TNI.

"Contoh sederhana, kadang kita lupa kancing tidak terpasang. Anak buah lari: 'Pak, kancingnya...'. Lho, anak buah kok berani koreksi? Tetapi dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan Presiden muncul tapi kancingnya tidak lengkap. Meskipun kadang dongkol karena ajudan cerewet, tapi dia menjaga saya," cerita Presiden yang disambut tawa jemaat.

Tegas Tolak Fitnah Meski terbuka lebar terhadap kritik, Presiden Prabowo memberikan garis pembatas yang tegas terhadap fitnah dan kebohongan. Menurutnya, fitnah merupakan ancaman serius yang dapat memicu kebencian dan perpecahan bangsa.

"Koreksi silakan, kritik bagus, tetapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah," tegasnya.

Presiden mengutip nilai-nilai universal agama, termasuk perintah 'Thou shalt not lie' dalam ajaran Kristiani serta prinsip dalam Islam yang menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Ia mengingatkan bahwa kebohongan yang menimbulkan kecurigaan hanya akan merusak keutuhan bangsa. (Antara)

Baca Juga: Wamenkum: Hanya Presiden dan Pimpinan 5 Lembaga Negara yang Bisa Lapor Penghinaan

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Kantor SAR Natuna mencetak 29 tenaga terlisensi Medical First Responder (MFR) usai jalani pelatihan intensif penanganan ...

news | 18:44 WIB

Menteri ATR Nusron Wahid meminta STPN Sleman menjaga tradisi dialektika berpikir dengan menghadirkan ruang diskusi bersa...

news | 18:41 WIB

Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah menerapkan satu kendali dalam penanganan karhutla serta mengawal ketat pe...

news | 18:38 WIB

Wapres Gibran Rakabuming meninjau pembangunan Jembatan Garoga di Tapanuli Selatan dan meminta percepatan pemulihan pasca...

news | 18:34 WIB

Peneliti Indikator Politik Indonesia menilai diplomasi Presiden Prabowo Subianto di Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di...

news | 09:45 WIB