Kritik Fenomena AI, PKB: Cari Orang Cerdas Itu Mudah, Cari yang Beradab Itu Sulit

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hasanuddin Wahid, menekankan pentingnya adab di tengah gempuran teknologi digital. Menurutnya, meski akses terhadap ilmu pengetahuan kini sangat mudah didapat melalui teknologi

Elara | MataMata.com
Selasa, 24 Februari 2026 | 08:15 WIB
Kritik Fenomena AI, PKB: Cari Orang Cerdas Itu Mudah, Cari yang Beradab Itu Sulit

Kritik Fenomena AI, PKB: Cari Orang Cerdas Itu Mudah, Cari yang Beradab Itu Sulit

matamata.com - Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hasanuddin Wahid, menekankan pentingnya adab di tengah gempuran teknologi digital. Menurutnya, meski akses terhadap ilmu pengetahuan kini sangat mudah didapat melalui teknologi, namun sosok guru yang mampu mengajarkan adab tetap tidak tergantikan.

"Mencari orang cerdas itu mudah, tetapi mencari orang beradab itu sulit. Hari ini guru ilmu sangat mudah dicari; ChatGPT, AI, dan teknologi digital tersedia di genggaman. Akan tetapi, guru adab tidak bisa dicari sembarangan. Perlu istikharah, sanad, dan keteladanan," ujar pria yang akrab disapa Cak Udin ini di Kantor DPP PKB, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Kitab Kuning sebagai Kompas Politik Cak Udin menjelaskan bahwa PKB memilih kembali kepada warisan ulama sebagai kompas perjuangan. Hal ini menjadi respons atas dinamika politik Indonesia yang dinilai semakin kompleks, pragmatis, dan transaksional.

Sebagai langkah konkret, PKB mewajibkan kader untuk mengkaji kitab Adabul 'Alim wal Muta’allim karya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari. Langkah ini diambil untuk memperkuat fondasi moral kader partai berlambang bola dunia tersebut.

Dua Alasan Strategis Ada dua alasan utama mengapa PKB memilih mengkaji karya pemikiran Mbah Hasyim. Pertama, sebagai bentuk komitmen intelektual. PKB ingin seluruh kadernya layak disebut sebagai santri Hadratussyaikh, bukan hanya secara historis, tetapi juga secara nilai dan spirit perjuangan.

Kedua, sebagai bentuk tanggung jawab ideologis dalam menjaga dan membesarkan Nahdlatul Ulama (NU), yang merupakan organisasi bentukan K.H. Hasyim Asy'ari.

"Sepelik apa pun dunia politik Indonesia, kami masih punya kendali. Kendali itu adalah kitab kuning karya para ulama, dan NU itu adalah 'kitab kuning' terbesar Mbah Hasyim. Itulah pemandu kami," tegas Cak Udin.

Ia juga menambahkan bahwa tidak banyak partai politik yang berani menjadikan kitab kuning sebagai arah perjuangan di era modern seperti saat ini. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Indonesia bidik posisi pemain utama bioenergi sawit global lewat ajang INNOPROM 2026 di Rusia. Menperin tegaskan kesiapa...

news | 16:19 WIB

Netflix mengungkapkan film keluarga Indonesia rutin masuk daftar Global Top 10 dalam 4 tahun terakhir. Simak tren menont...

news | 16:10 WIB

Jaksa Agung resmi menunjuk Rudi Margono sebagai Plt Jampidsus menggantikan Febrie Adriansyah yang mengundurkan diri usai...

news | 14:08 WIB

Sekjen DPP Partai Golkar M. Sarmuji meminta kader muda AMPG adaptif terhadap perubahan zaman. AMPG juga menggelar Rapimn...

news | 14:01 WIB

Hubungan AS dan Iran kembali membara. Ketua Parlemen Iran tegaskan kesiapan pertahanan total saat bertemu Ketua MPR RI A...

news | 13:57 WIB