Realisasi APBN KiTa Januari 2026: Penerimaan Cukai Terkontraksi, Bea Keluar Anjlok 41,6 Persen

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada Januari 2026 mencapai Rp22,6 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 14 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Elara | MataMata.com
Selasa, 24 Februari 2026 | 07:15 WIB
Realisasi APBN KiTa Januari 2026: Penerimaan Cukai Terkontraksi, Bea Keluar Anjlok 41,6 Persen

Realisasi APBN KiTa Januari 2026: Penerimaan Cukai Terkontraksi, Bea Keluar Anjlok 41,6 Persen

matamata.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada Januari 2026 mencapai Rp22,6 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 14 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menjelaskan bahwa penurunan performa ini dipicu oleh melandainya setoran dari sektor cukai dan bea keluar pada pembukaan tahun anggaran.

Cukai Rokok Tertekan Produksi Akhir Tahun Secara terperinci, penerimaan cukai tercatat sebesar Rp17,5 triliun, atau mengalami kontraksi sebesar 12,4 persen secara tahunan (year-on-year). Suahasil menyebut fenomena ini berkaitan erat dengan dinamika produksi pita cukai pada pengujung tahun 2025.

"Jika kita melihat pola pembelian pita cukai, pada Desember 2025 memang terjadi penurunan dibandingkan Desember 2024. Namun, kabar baiknya, pada Januari 2026 mulai terlihat tren kenaikan dibanding Januari tahun lalu," ungkap Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin (23/2).

Harga Komoditas Pukul Bea Keluar Sektor bea keluar mengalami hantaman paling dalam dengan raihan Rp1,4 triliun, atau anjlok hingga 41,6 persen secara tahunan. Penurunan tajam ini merupakan dampak langsung dari melemahnya harga komoditas global, terutama minyak kelapa sawit (CPO).

"Melemahnya harga CPO berdampak signifikan pada basis pengenaan bea keluar kita di awal tahun ini," tambahnya.

Tren Impor Tarif Nol Persen Di sisi lain, penerimaan bea masuk juga tercatat turun 4,4 persen menjadi Rp3,7 triliun. Kemenkeu mencatat penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya volume impor dengan tarif Most Favoured Nation (MFN) 0 persen, serta meningkatnya pemanfaatan fasilitas perjanjian perdagangan bebas (FTA) oleh para importir.

Meski mengalami kontraksi di berbagai lini, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai per Januari 2026 ini telah mencapai 6,7 persen dari total target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Kantor SAR Natuna mencetak 29 tenaga terlisensi Medical First Responder (MFR) usai jalani pelatihan intensif penanganan ...

news | 18:44 WIB

Menteri ATR Nusron Wahid meminta STPN Sleman menjaga tradisi dialektika berpikir dengan menghadirkan ruang diskusi bersa...

news | 18:41 WIB

Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah menerapkan satu kendali dalam penanganan karhutla serta mengawal ketat pe...

news | 18:38 WIB

Wapres Gibran Rakabuming meninjau pembangunan Jembatan Garoga di Tapanuli Selatan dan meminta percepatan pemulihan pasca...

news | 18:34 WIB

Peneliti Indikator Politik Indonesia menilai diplomasi Presiden Prabowo Subianto di Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di...

news | 09:45 WIB