Makan Bergizi Gratis Dinilai Efektif Jadi Sarana Edukasi Gizi Anak di Sekolah

Ahli gizi masyarakat Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga menjadi sarana pendidikan gizi yang efektif bila disertai penjelasan yang tepat.

Elara | MataMata.com
Senin, 21 Juli 2025 | 16:30 WIB
Makan Bergizi Gratis Dinilai Efektif Jadi Sarana Edukasi Gizi Anak di Sekolah

Makan Bergizi Gratis Dinilai Efektif Jadi Sarana Edukasi Gizi Anak di Sekolah

matamata.com - Ahli gizi masyarakat Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga menjadi sarana pendidikan gizi yang efektif bila disertai penjelasan yang tepat.

“Dengan anak bisa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) yang benar dan disertai dengan penjelasan yang baik, akhirnya ini menjadi kebiasaan,” ujar dr. Tan saat dihubungi ANTARA, Senin (21/7).

Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, pendidikan gizi di sekolah semestinya dilakukan oleh tenaga pengajar yang kompeten dan sejalan dengan kampanye nasional “Isi Piringku” yang dicanangkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Kampanye “Isi Piringku” yang diluncurkan sejak 2017 mengatur porsi makan sehat, yakni setengah piring terdiri dari buah dan sayur, sementara sisanya berisi makanan pokok serta lauk pauk. Selain itu, kampanye ini juga mendorong kebiasaan hidup sehat, seperti cukup minum air putih dan rajin mencuci tangan.

Dr. Tan menekankan bahwa lingkungan sekolah harus mendukung terciptanya pola hidup sehat. Guru, katanya, perlu dibekali literasi gizi agar bisa memperkenalkan berbagai pangan sehat serta menjelaskan dampak buruk dari konsumsi makanan ultraproses.

“Guru bisa menampilkan langsung berbagai jenis bahan pangan dan mengajak murid untuk mengategorikan mana yang sehat hingga yang berbahaya jika dikonsumsi berlebihan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar kantin sekolah tidak menjual atau mempromosikan makanan kemasan dan berpengawet. Ia juga mengusulkan agar pemerintah membatasi iklan makanan ultraproses yang menyasar anak dan remaja.

“Sudah waktunya memberi batasan-batasan iklan yang mendorong anak dan remaja menjadi konsumen aktif produk ultraproses yang berisiko menggeser pangan sehat. Semakin banyak iklan produk makanan dan minuman tinggi gula garam lemak bersliweran bukan hanya di media cetak dan elektronik tapi juga media sosial,” tegasnya.

Sementara itu, Dewan Pakar Bidang Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha, mengungkapkan pihaknya telah mengusulkan agar pendidikan gizi masuk dalam kurikulum sekolah.

“Hal ini sudah disampaikan kepada Kemendikdasmen. Tujuan utama dari langkah ini adalah menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” kata Ikeu, Sabtu (19/7).

Baca Juga: Prabowo Tegas: Negara Bisa Sita Penggilingan Padi Nakal, Serahkan ke Koperasi

Ia menekankan pentingnya edukasi gizi yang terstruktur di sekolah agar pemahaman anak tentang nutrisi terbentuk sejak dini secara komprehensif. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

DPR RI bersama lintas kementerian membahas finalisasi Perpres Ojol. Regulasi ini fokus mengawal pembagian tarif 92 perse...

news | 15:51 WIB

PT Danantara Asset Management (DAM), entitas di bawah Danantara Indonesia, resmi mengambil alih empat perusahaan manajer...

news | 15:43 WIB

Majelis Hakim PN Jakarta Timur mengabulkan eksepsi Dokter Tifa. Sidang kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terk...

news | 14:48 WIB

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyebut Istana belum membahas sosok pengganti Wamentan usai Sudaryo...

news | 14:33 WIB

BNN RI merampas aset Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) kasus narkotika senilai Rp165 miliar. Kepala BNN Komjen Pol Suy...

news | 14:27 WIB