Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)
Matamata.com - Pemerintahan Presiden Donald Trump secara resmi menetapkan Iran sebagai ancaman utama bagi Amerika Serikat yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Pernyataan tegas ini tertuang dalam dokumen Strategi Kontraterorisme Amerika Serikat terbaru.
"Ancaman terbesar bagi Amerika Serikat yang berasal dari Timur Tengah datang khususnya dari Iran, baik secara langsung melalui kemampuan nuklir dan misilnya, maupun secara tidak langsung lewat penyaluran dana miliaran dolar kepada kelompok proksi, termasuk Hezbollah," demikian bunyi dokumen tersebut sebagaimana dikutip dari RIA Novosti, Kamis (7/5/2026).
Ketegangan antara kedua negara sempat memuncak pada 28 Februari lalu, saat Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan material dan memakan korban jiwa dari pihak sipil.
Meski sempat ada titik terang melalui pengumuman gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April, jalur diplomasi nyatanya masih menemui jalan buntu.
Pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi ini memaksa Presiden Trump memperpanjang masa penghentian pertempuran guna memberikan ruang bagi Iran menyusun “proposal terpadu.”
Eskalasi konflik ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia. Jalur pelayaran di Selat Hormuz hampir lumpuh total. Padahal, wilayah tersebut merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Akibatnya, harga energi di pasar internasional terus merangkak naik.
Merespons krisis logistik tersebut, Presiden Trump pada Minggu malam sempat mengumumkan peluncuran "Project Freedom". Operasi ini dirancang untuk mengawal dan membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar dengan aman.
Namun, dalam pernyataan terbaru pada Selasa, Trump memutuskan untuk menunda operasi militer tersebut. Langkah penundaan ini diambil untuk melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen dengan Teheran. (Antara)