RI Tawarkan Sawit hingga Nikel untuk Tekan Tarif Impor AS

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia tengah mengajukan sejumlah komoditas unggulan sebagai strategi untuk menekan tarif resiproka

Elara | MataMata.com
Selasa, 09 September 2025 | 15:15 WIB
RI Tawarkan Sawit hingga Nikel untuk Tekan Tarif Impor AS

RI Tawarkan Sawit hingga Nikel untuk Tekan Tarif Impor AS

matamata.com - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia tengah mengajukan sejumlah komoditas unggulan sebagai strategi untuk menekan tarif resiprokal Amerika Serikat yang kini berada di angka 19 persen.

Dalam wawancara khusus bersama ANTARA di Jakarta, Selasa, Dubes Dwisuryo menjelaskan bahwa delegasi Indonesia akan mengusulkan pengurangan tarif pada pekan kedua September dengan menawarkan komoditas yang tidak diproduksi di Amerika Serikat, seperti minyak kelapa sawit.

“Contohnya, Amerika Serikat sangat membutuhkan minyak kelapa sawit. Jadi, jika kita mengekspor minyak sawit, diharapkan tarifnya bisa dikurangi, bukan 19 persen,” ujarnya.

Selain sawit, komoditas lain yang disiapkan Indonesia antara lain udang, kayu, furnitur, tembaga, dan nikel. Menurut Dubes Dwisuryo, peluang ekspor juga terbuka pada sektor tekstil dan garmen, meski produksi di dalam negeri masih rendah.

“Kita tahu bahwa semua bentuk kerja sama akan membawa keuntungan bagi kedua negara. Misalnya, tekstil dan garmen jadi dari Indonesia memiliki pasar yang besar di Amerika Serikat. Namun, saat ini aktivitas produksi garmen dan pakaian jadi di Indonesia masih belum optimal,” jelasnya.

Terkait kemungkinan penurunan tarif hingga 0 persen, Dwisuryo tidak memberikan jawaban tegas. Ia hanya menekankan pentingnya memberi ruang bagi delegasi Indonesia untuk melanjutkan negosiasi di Washington D.C.

“Kita akan lihat nanti. Saat ini, mari kita beri kesempatan kepada delegasi kita di Amerika Serikat yang sedang berdiskusi dengan pihak AS untuk mencari jalan terbaik bagi kedua negara,” tambahnya.

Sepanjang 2024, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat sebesar 26 miliar dolar AS (Rp426,5 triliun), sementara ekspor AS ke Indonesia hanya 10 miliar dolar AS (Rp164,4 triliun). Kondisi ini membuat Indonesia membukukan surplus perdagangan hingga 16 miliar dolar AS (Rp262,5 triliun).

Meski begitu, Dubes Dwisuryo menilai bahwa baik Indonesia maupun Amerika Serikat memiliki kepentingan yang sama untuk menciptakan keseimbangan perdagangan.

“Indonesia mencatat surplus sebesar 16 miliar dolar AS. Saat ini, yang kami pikirkan adalah Amerika Serikat ingin tercipta keseimbangan yang lebih baik, namun Indonesia juga ingin bersama-sama meningkatkan kerja sama ini,” ungkapnya.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Klarifikasi Pernyataannya yang Tuai Kontroversi

Sebelumnya, tarif impor produk Indonesia ke pasar Amerika Serikat berhasil ditekan dari 32 persen menjadi 19 persen melalui komunikasi langsung antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.

Kendati tarif baru tersebut sudah berlaku sejak 7 Agustus lalu, Indonesia masih menargetkan penurunan lebih lanjut hingga 0 persen untuk sejumlah produk, seiring dengan masih terbukanya ruang diskusi dengan pemerintah Amerika Serikat. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Film Dan Bandung menggelar special screening di XXI Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta (8/8/2026), dan disambut antusias penon...

news | 17:14 WIB

Film Dan Bandung menggelar special screening di XXI Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta (8/8/2026), dan disambut antusias penon...

news | 17:13 WIB

DPR RI bersama lintas kementerian membahas finalisasi Perpres Ojol. Regulasi ini fokus mengawal pembagian tarif 92 perse...

news | 15:51 WIB

PT Danantara Asset Management (DAM), entitas di bawah Danantara Indonesia, resmi mengambil alih empat perusahaan manajer...

news | 15:43 WIB

Majelis Hakim PN Jakarta Timur mengabulkan eksepsi Dokter Tifa. Sidang kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terk...

news | 14:48 WIB