WHO: Risiko Penularan Hantavirus Rendah, Tak Ada Pembatasan Perjalanan

WHO menegaskan risiko penularan Hantavirus tetap rendah dan tidak diperlukan pembatasan perjalanan internasional meski ditemukan kasus di kapal MV Hondius.

Elara | MataMata.com
Selasa, 05 Mei 2026 | 07:00 WIB
Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan kantor pusat WHO di latar belakang di Jenewa, Swiss, Minggu (21/5/2023). ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa.

Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan kantor pusat WHO di latar belakang di Jenewa, Swiss, Minggu (21/5/2023). ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa.

Matamata.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa tidak ada risiko penularan luas terkait Hantavirus. Oleh karena itu, otoritas kesehatan dunia memandang tidak diperlukan adanya kebijakan pembatasan perjalanan (travel restriction).

Kepala Kantor WHO wilayah Eropa, Hans Kluge, menjelaskan bahwa infeksi Hantavirus umumnya bersifat zoonosis atau berkaitan erat dengan paparan lingkungan, bukan penularan antarmanusia secara masif.

"Infeksi Hantavirus umumnya terkait paparan lingkungan, seperti kontak dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi. Meski dalam beberapa kasus bisa berakibat parah, virus ini tidak mudah menular antarmanusia," ujar Hans Kluge melalui akun resminya di platform X, Senin (4/5).

Kluge mengimbau masyarakat untuk tetap tenang karena ancaman virus ini terhadap publik global masih dikategorikan dalam level rendah.

"Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau melakukan pembatasan perjalanan," tegasnya.

Pernyataan resmi ini menyusul laporan media mengenai adanya tiga orang yang meninggal dunia akibat dugaan wabah Hantavirus di atas kapal MV Hondius. Kapal tersebut diketahui sedang dalam pelayaran dari Argentina menuju Tanjung Verde.

Pihak otoritas kesehatan terus memantau perkembangan situasi di kapal tersebut untuk memastikan protokol sanitasi telah dijalankan sesuai standar internasional. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Kemensos siap meluluskan 453 siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat tahun ini. Simak target ambisius pemerintah tampung 5...

news | 16:12 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengumumkan realisasi anggaran revitalisasi sekolah 2026 telah mencapai Rp2,6 triliun. Simak st...

news | 15:08 WIB

Menteri LH Jumhur Hidayat mendorong PSEL Palembang mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari. Proyek yang ditargetkan ra...

news | 15:00 WIB

Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mendesak Kemenag memperketat izin dan pengawasan pesantren buntut kasus keker...

news | 14:06 WIB

TNI AD dan Kemenko Pangan resmi berkolaborasi dalam mengelola sampah nasional. KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak soroti d...

news | 12:55 WIB

Menag Nasaruddin Umar menegaskan tidak ada toleransi bagi pelaku kekerasan seksual di pesantren. Kemenag bentuk Satuan P...

news | 12:26 WIB

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat sektor industri pengolahan seperti nikel dan aluminium mendominasi 82,25% pa...

news | 11:56 WIB

Pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia melonjak tajam. Wamenaker Afriansyah Noor tegaskan komitmen Kemnaker siapkan S...

news | 11:46 WIB

KPK terus mendalami kasus korupsi Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq. Penyidik kini fokus menelusuri transaksi penu...

news | 09:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto merestui 7 strategi Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat nilai tukar rupiah, termasuk membatas...

news | 08:15 WIB