Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan dalam seminar nasional terkait aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Jakarta, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Aria Ananda/aa.
Matamata.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi saat ini merupakan dampak langsung dari gejolak ekonomi global. Pemerintah memastikan akan terus memantau pergerakan pasar agar tetap terkendali.
“Ya, kita lihat gejolak global juga menjadi pengaruh utama. Jadi, kita monitor saja,” ujar Airlangga saat ditemui di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Berdasarkan data pasar pada Kamis pagi, nilai tukar Rupiah melemah 108 poin atau 0,63 persen ke posisi Rp17.289 per dolar AS. Angka ini merosot dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.
Airlangga menambahkan, pemerintah tengah melakukan peninjauan mendalam untuk langkah antisipasi. Hal ini menjadi krusial mengingat asumsi nilai tukar Rupiah dalam APBN Tahun Anggaran 2026 dipatok pada angka Rp16.500 per dolar AS.
“Kita monitor terus, karena kita tidak bisa reaktif setiap hari. Itu tugas Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitasnya,” imbuhnya.
Sentimen Geopolitik dan Kebijakan BI Terpisah, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai pelemahan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
“Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” jelas Amru.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen sebagai upaya menjaga stabilitas. Guna meredam volatilitas, BI juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing. “Ke depan, arah Rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik,” tutup Amru. (Antara)
Baca Juga: Mendiktisaintek Dorong Konsorsium Nasional demi Kedaulatan Satelit Indonesia