DPR Usulkan Badan Khusus Pengelola Aset dalam RUU Perampasan Aset

Anggota Komisi III DPR Rikwanto mengusulkan pembentukan badan khusus dalam RUU Perampasan Aset untuk mencegah penyusutan nilai aset sitaan negara.

Elara | MataMata.com
Senin, 20 April 2026 | 15:15 WIB
Anggota Komisi III DPR RI Rikwanto saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) RUU Perampasan Aset di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (20/4/2026). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Anggota Komisi III DPR RI Rikwanto saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) RUU Perampasan Aset di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (20/4/2026). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Matamata.com - Anggota Komisi III DPR RI, Rikwanto, menekankan pentingnya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset Terkait Tindak Pidana untuk mengatur pembentukan badan khusus pengelola aset hasil rampasan. Hal ini diperlukan guna memastikan aset yang disita tetap terjaga nilai ekonomisnya sebelum menjadi kekayaan negara.

"Jangan sampai saat disita nilainya sekitar Rp100 juta, namun seiring waktu turun menjadi Rp1 juta karena penyusutan dan faktor pengelolaan yang tidak optimal," ujar Rikwanto dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4).

Rikwanto menjelaskan bahwa badan khusus tersebut nantinya bisa bernaung di bawah Kejaksaan, lembaga independen, atau bentuk lain sesuai kesepakatan pembahasan RUU. Menurutnya, pengelolaan aset saat ini menjadi tantangan besar, terutama jika objek yang dirampas berupa operasional bisnis skala besar.

"Objeknya tidak hanya kendaraan, rumah, atau tanah. Ini bisa mencakup perkebunan hingga pertambangan skala besar yang membutuhkan manajemen khusus agar tetap produktif," tambahnya.

Meski mendorong penguatan wewenang negara, politisi ini menegaskan bahwa pelaksanaan aturan tersebut harus tetap berpedoman pada hak-hak konstitusional. Setiap tindakan perampasan wajib didasarkan pada pembuktian tindak pidana, bukan atas dasar kecurigaan semata.

Ia menjelaskan, Badan Keahlian DPR RI telah merumuskan nomenklatur dengan judul RUU tentang Perampasan Aset "Terkait Tindak Pidana". Penekanan frasa tersebut bertujuan agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dalam penyitaan harta warga negara.

"Jadi bukan tiba-tiba ada orang yang penghasilannya besar, lalu dianggap aneh dan langsung dilakukan upaya perampasan. Tidak begitu. Harus ada dasar tindak pidana yang kuat," tegas Rikwanto.

Lebih lanjut, Rikwanto mengingatkan bahwa hukum tidak boleh menjadi alat represif. Seluruh proses penegakan hukum wajib menghormati hak pihak terkait, termasuk hak waris pihak ketiga yang tidak terlibat pidana.

"Harus seimbang antara kewenangan negara dan hak konstitusional warga. Inilah yang menjadi pedoman kami dalam pembahasan RUU Perampasan Aset ke depan," pungkasnya. (Antara)

Baca Juga: Cara Lapor Program Makan Bergizi Gratis via Aplikasi Jaga Desa Kejaksaan Agung

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Pendaftaran Manajer Kopdes Merah Putih 2026 tembus 220 ribu orang dalam 4 hari. Simak update progres pembangunan dan reg...

news | 14:15 WIB

Jamintel Kejaksaan Agung ajak masyarakat awasi program Makan Bergizi Gratis. Laporkan makanan basi atau tak layak lewat ...

news | 13:25 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu'ti tegaskan sanksi bagi pengawas TKA yang melanggar aturan, termasuk oknum yang Live TikTok dan me...

news | 12:00 WIB

Wapres Gibran Rakabuming Raka mengawali kunker di Papua Tengah dengan atribut adat. Agenda utama meliputi peninjauan Ban...

news | 11:43 WIB

Anggota Komisi I DPR Yudha Novanza Utama meminta pemerintah segera siapkan rencana darurat untuk lindungi 934 WNI di Leb...

news | 10:30 WIB

Pakar ekonomi UGM dan Unima menilai kenaikan harga BBM non-subsidi per 18 April 2026 sebagai langkah koreksi wajar di te...

news | 09:15 WIB

Kementerian Kebudayaan peringati 71 tahun KAA. Menbud Fadli Zon tekankan pentingnya budaya untuk perdamaian dunia dan us...

news | 08:15 WIB

Ketua DPRD Kaltara Achmad Djufrie menekankan pentingnya harmoni nasional dan daerah usai mengikuti retret Lemhannas 2026...

news | 07:15 WIB

Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani persilakan warga cek stok beras di gudang. Per April 2026, cadangan beras nasional menc...

news | 06:00 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman sebut ekspor CPO RI melonjak 26,40% di awal 2026. Indonesia kini kuasai 60% pasar sawit dunia...

news | 12:35 WIB