Uni Eropa Desak Israel Hentikan Proyek Permukiman E1, Sebut Sebagai Provokasi Serius

Uni Eropa mendesak Israel untuk segera menghentikan proyek permukiman E1 di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Elara | MataMata.com
Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat. ANTARA/Anadolu/py.

Ilustrasi permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat. ANTARA/Anadolu/py.

Matamata.com - Uni Eropa mendesak Israel untuk segera menghentikan proyek permukiman E1 di wilayah pendudukan Tepi Barat. Uni Eropa memperingatkan bahwa langkah terbaru Israel untuk memperluas permukiman tersebut mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan.

Juru Bicara Komisi Eropa, Anouar El Anouni, dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa publikasi tender pembangunan 3.401 rumah dalam rencana E1, serta progres pembangunan jalan yang dijuluki “Sovereignty Road”, merupakan sebuah provokasi serius.

"Kebijakan permukiman Israel merupakan hambatan besar bagi perdamaian. Hal ini berisiko memperburuk ketidakstabilan di Tepi Barat, memicu pengungsian ribuan warga Palestina, hingga memutus konektivitas wilayah Tepi Barat," tegas El Anouni pada Jumat (16/1/2026).

Selain wilayah E1, Uni Eropa juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas rencana pembangunan permukiman di Atarot dan Nahalat Shimon, Yerusalem Timur.

El Anouni menambahkan bahwa perluasan yang terus berlanjut ini semakin melemahkan kelayakan solusi dua negara, yang memproyeksikan Yerusalem sebagai ibu kota masa depan bagi kedua negara.

Uni Eropa meminta otoritas Israel segera membatalkan perluasan yang dianggap ilegal menurut hukum internasional tersebut. Desakan ini muncul setelah terjadi percepatan persetujuan rencana permukiman baru dalam beberapa bulan terakhir.

"Israel harus mematuhi kewajiban hukum internasional serta memastikan perlindungan penuh bagi penduduk Palestina di wilayah pendudukan," lanjutnya.

Secara terpisah, ketegangan ini juga memicu langkah diplomasi intensif. Menteri Luar Negeri Siprus, Constantinos Kombos, mengungkapkan melalui platform X bahwa dirinya telah menjalin komunikasi telepon dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, dan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.

Dalam pembicaraan tersebut, para pihak menekankan pentingnya jalur diplomasi untuk meredakan eskalasi dan menjaga stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah. (Antara)

Baca Juga: Negara Gugat Enam Korporasi Rp4,8 Triliun Terkait Kerusakan Lingkungan di Sumatera Utara

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Komisi X DPR RI mendesak Kemendikdasmen mengkaji matang wacana bahasa Prancis masuk kurikulum sekolah agar tidak mengorb...

news | 16:08 WIB

Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan swasembada pangan adalah hak rakyat dan petani. Kerangka 33 regulasi disiapkan de...

news | 16:02 WIB

PLN menegaskan tarif listrik periode April-Juni 2026 tidak naik. Simak penjelasan PLN terkait tagihan netizen yang melon...

news | 15:56 WIB

Gerindra puji sikap elegan Megawati Soekarnoputri yang tetap hormati Presiden Prabowo meski tak berkoalisi, kontraskan d...

news | 13:47 WIB

Ratusan sopir ojol padati PN Jakarta Pusat demi dukung Nadiem Makarim yang jalani sidang pleidoi kasus korupsi Chromeboo...

news | 11:00 WIB

Kemenhaj menegaskan larangan membawa air zamzam di koper bagasi dan kabin pesawat bagi jamaah haji. Koper yang melanggar...

news | 10:30 WIB

Seskab Teddy Indra Wijaya membeberkan deretan capaian konkret kunjungan luar negeri Presiden Prabowo selama 1,5 tahun te...

news | 09:30 WIB

Presiden AS Donald Trump mengeklaim Israel dan Hizbullah sepakat menghentikan permusuhan. Trump menjamin Israel batal ki...

news | 08:30 WIB

Kebakaran hebat melanda pemukiman padat di Kemayoran, Jakarta Pusat, menghanguskan sekitar 250 rumah. Pemerintah gerak c...

news | 07:30 WIB

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman puji kualitas Marselino Ferdinan 'bagus banget' jelang laga melawan Oman di FIFA M...

news | 06:00 WIB