Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Ekonomi Indonesia, Pengamat: Waspadai Kenaikan Harga Minyak

Pengamat ekonomi Dr. James Adam ingatkan pemerintah Indonesia segera antisipasi dampak konflik AS-Iran terhadap rantai pasok dan harga bahan pokok nasional.

Elara | MataMata.com
Selasa, 03 Maret 2026 | 06:15 WIB
Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Ekonomi Indonesia, Pengamat: Waspadai Kenaikan Harga Minyak

Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Ekonomi Indonesia, Pengamat: Waspadai Kenaikan Harga Minyak

matamata.com - Pemerintah diminta segera mengambil langkah strategis lintas kementerian untuk mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global terhadap stabilitas ekonomi nasional. Hal ini merespons meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pengamat ekonomi regional, Dr. James Adam, menegaskan bahwa koordinasi pemerintah harus dilakukan sejak dini agar respon kebijakan bisa cepat dan tepat sasaran.

“Antisipasi harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu dampak membesar baru bertindak. Koordinasi lintas kementerian dan pemantauan ekonomi global secara real-time menjadi kunci,” ujar James kepada ANTARA di Kupang, Senin (2/3).

James menjelaskan, ketidakpastian global akibat konflik tersebut berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan, sektor energi, hingga arus keuangan internasional. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan perlu diperkuat untuk meredam gejolak eksternal.

Menurutnya, skema kebijakan ekonomi yang adaptif sangat diperlukan untuk menjaga kondisi perekonomian nasional. Langkah konkret yang bisa diambil meliputi penguatan cadangan energi, pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, hingga proteksi terhadap sektor produktif yang rentan.

Ancaman Rantai Pasok dan Harga BBM James menambahkan, perang di Timur Tengah dipastikan berdampak pada ekonomi global karena terganggunya jalur perdagangan internasional. Indikasi awal bahkan sudah terlihat dari adanya pembatalan atau penundaan sejumlah penerbangan internasional.

“Jika perang berlanjut, distribusi barang dan jasa akan terhambat. Meskipun secara geografis Indonesia jauh, dampak pada ekspor-impor pasti terasa karena sistem distribusi yang tertunda,” jelasnya.

Sektor energi menjadi perhatian utama. James memperingatkan bahwa gangguan produksi dan distribusi akan memicu lonjakan harga minyak dunia. Jika hal ini terjadi, harga minyak di dalam negeri berpotensi mengalami penyesuaian jika tidak ada intervensi subsidi.

Kenaikan harga minyak ini diprediksi akan memicu efek domino pada komoditas lain.

"Jika harga minyak naik, maka harga emas dan kebutuhan pokok lainnya ikut terangkat. Hal ini terjadi karena rantai pasok terganggu akibat kenaikan biaya produksi (cost of production) dan biaya distribusi," pungkas James. (Antara)

Baca Juga: Sambut Ramadan, RCTI Hadirkan Tabligh Akbar 'Penyejuk Hati' secara Live dari Masjid Agung Al Amjad Tangerang

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Indonesia bidik posisi pemain utama bioenergi sawit global lewat ajang INNOPROM 2026 di Rusia. Menperin tegaskan kesiapa...

news | 16:19 WIB

Netflix mengungkapkan film keluarga Indonesia rutin masuk daftar Global Top 10 dalam 4 tahun terakhir. Simak tren menont...

news | 16:10 WIB

Jaksa Agung resmi menunjuk Rudi Margono sebagai Plt Jampidsus menggantikan Febrie Adriansyah yang mengundurkan diri usai...

news | 14:08 WIB

Sekjen DPP Partai Golkar M. Sarmuji meminta kader muda AMPG adaptif terhadap perubahan zaman. AMPG juga menggelar Rapimn...

news | 14:01 WIB

Hubungan AS dan Iran kembali membara. Ketua Parlemen Iran tegaskan kesiapan pertahanan total saat bertemu Ketua MPR RI A...

news | 13:57 WIB