Komisi XI DPR Minta Hico-Scan Diambil Alih Negara demi Perkuat Pengawasan Bea Cukai

Komisi XI DPR RI mendesak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk memperkuat pengawasan arus barang dengan mengalihkan status alat pemindai kontainer Hico-Scan (Hi-Co Scan) menjadi aset negara.

Elara | MataMata.com
Selasa, 25 November 2025 | 07:00 WIB
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Djaka Budi Utama dan Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Luky Alfirman menghadiri rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (24/11/2025) (ANTARA/Bayu Saputra)
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Djaka Budi Utama dan Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Luky Alfirman menghadiri rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (24/11/2025) (ANTARA/Bayu Saputra)

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Djaka Budi Utama dan Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Luky Alfirman menghadiri rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (24/11/2025) (ANTARA/Bayu Saputra) Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Djaka Budi Utama dan Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Luky Alfirman menghadiri rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (24/11/2025) (ANTARA/Bayu Saputra)

Matamata.com - Komisi XI DPR RI mendesak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk memperkuat pengawasan arus barang dengan mengalihkan status alat pemindai kontainer Hico-Scan (Hi-Co Scan) menjadi aset negara.

Desakan tersebut muncul dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Jakarta, Senin, usai Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama menjelaskan bahwa Hico-Scan terbukti efektif menutup celah penyelundupan, namun hingga kini masih berada di bawah pengelolaan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).

Djaka menyampaikan bahwa pemanfaatan Hico-Scan menjadi langkah penting dalam meminimalkan kebocoran, khususnya pada sektor tekstil, elektronik, kosmetik, dan komoditas lain yang rawan diselundupkan. Alat ini kini telah beroperasi di sejumlah pelabuhan utama seperti Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, dan Belawan.

“Seperti apa yang kemarin diteliti pada saat kunjungan Pak Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa) di Surabaya, itu juga adalah berdasarkan hasil Hico-Scan, termasuk juga beberapa waktu lalu kita berhasil menggagalkan ekspor fiktif yang dilakukan di kawasan berikat,” kata Djaka.

Hico-Scan bahkan membantu membongkar upaya ekspor rokok yang isinya diganti air mineral. Kendati demikian, Komisi XI DPR menilai efektivitas tersebut belum berjalan maksimal.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengkritik peralatan pemindai yang selama ini tidak berfungsi optimal meski berada di bawah pengawasan Bea Cukai.

“Selama ini kita tahu Bea Cukai itu punya di banyak pelabuhan, tapi selama ini enggak hidup. Kalau sekarang dihidupkan kita senang Pak. Kita beberapa kali kunker spesifik ke pelabuhan-pelabuhan, mengecek peralatan itu, semua enggak hidup Pak,” ujar Misbakhun.

Hico-Scan sendiri merupakan perangkat X-ray untuk memindai peti kemas tanpa membuka kontainer. Namun alat ini merupakan fasilitas milik Pelindo dan diproduksi oleh PT Graha Segara. Kondisi tersebut membuat Komisi XI menyoroti tata kelola aset.

Misbakhun menegaskan bahwa peralatan pemindai seharusnya menjadi aset Bea Cukai agar pengawasan bisa dilakukan sepenuhnya tanpa ketergantungan kepada operator pelabuhan.

“Ini kan sebenarnya aset bukan asetnya Bapak (Bea Cukai), sementara lalu lintas barang itu tanggung jawab Bapak. Ke depan Pak, ini enggak boleh menjadi asetnya orang lain, harus menjadi asetnya Bea Cukai, dimiliki oleh negara, dan dioperasionalkan oleh Bea Cukai,” tegasnya.

Baca Juga: DPR RI Distribusikan 98 Ton Bibit Jagung untuk Dongkrak Produksi di Muna dan Mubar

Ia juga memperingatkan potensi celah penyelundupan jika alat pemindai mengalami kerusakan, mengingat perangkat ini beroperasi 24 jam dan membutuhkan pemeliharaan berkelanjutan. Ketergantungan pada anggaran Pelindo dinilai menghambat respons cepat bila terjadi gangguan operasional.

Oleh karena itu, Misbakhun meminta Bea Cukai menyiapkan langkah strategis agar Hico-Scan dapat segera dialihkan menjadi aset negara, sehingga pengawasan arus barang dapat berjalan lebih efektif tanpa hambatan teknis maupun administratif. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea d...

news | 15:15 WIB

Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade dan Mensesneg Prasetyo Hadi memastikan stok BBM nasional aman dan harga BBM subs...

news | 14:15 WIB

Mendagri Tito Karnavian terbitkan SE terbaru soal aturan WFH ASN Pemda setiap hari Jumat. Simak daftar layanan yang teta...

news | 13:15 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman pastikan stok telur ayam ras surplus dan harga stabil. Presiden Prabowo akui pantau harga tel...

news | 12:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto disambut pelukan hangat oleh Presiden Korsel Lee Jae-myung di Blue House. Simak agenda kunjung...

news | 11:27 WIB

Pertamina Patra Niaga memastikan distribusi BBM nasional berjalan lancar dan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tidak m...

news | 10:15 WIB

KPK fokus panggil biro haji (PIHK) untuk mengejar pemulihan kerugian negara sebesar Rp622 miliar dalam kasus korupsi kuo...

news | 09:30 WIB

Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) mengecam keras pengeroyokan warga Aceh di Polda Metro Jaya. Ia meminta Kapolri usut...

news | 08:15 WIB

Anggota Komisi II DPR Muhammad Khozin minta kebijakan WFH ASN setiap Jumat dievaluasi berkala agar tidak jadi ajang long...

news | 07:45 WIB

Indonesia menuntut PBB melakukan investigasi transparan atas serangan Israel di Lebanon yang menewaskan 3 prajurit TNI a...

news | 06:15 WIB