Kemenlu RI: Pertemuan Xi Jinping-Donald Trump Bawa Suasana Positif di SOM APEC 2026

Kemlu RI menyebut pertemuan hangat antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump membawa angin segar dan suasana kondusif pada forum SOM APEC 2026 di Shanghai.

Elara | MataMata.com
Rabu, 20 Mei 2026 | 09:15 WIB
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto dalam pertemuan

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto dalam pertemuan "Senior Officials' Meeting" (SOM) di Shanghai, Selasa (19/5/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Matamata.com - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menilai pertemuan bilateral antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan nuansa positif dalam diskusi Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2026. Dampak positif ini langsung terasa dalam Pertemuan Pejabat Senior (Senior Officials' Meeting/SOM) APEC.

"Hasil pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump menciptakan latar belakang dan suasana pembahasan yang lebih positif karena hasil pembahasan kedua pemimpin tersebut sangat konstruktif," ujar Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kemlu RI, Santo Darmosumarto, kepada ANTARA di Beijing, Selasa (19/5/2026).

Santo menyampaikan hal tersebut seusai menghadiri pertemuan SOM APEC yang berlangsung pada 18-19 Mei 2026 di Shanghai, China.

Sebelumnya, Xi Jinping dan Donald Trump telah bertemu di Beijing pada 14-15 Mei 2026 dan menyepakati dimulainya hubungan yang stabil antara kedua negara besar tersebut.

Menurut Santo, tensi yang mencair antara AS dan China membuat jalannya SOM APEC menjadi jauh lebih kondusif. Langkah ini bahkan mendapat apresiasi langsung dari delegasi kedua negara berkepentingan tersebut.

"Hal ini juga disoroti oleh delegasi dari AS dan China. Mereka sangat mengapresiasi bahwa hasil pembahasan pada tingkat tertinggi sudah sangat kondusif, sehingga harapannya pembahasan di tingkat teknis APEC juga dapat berlangsung lancar," ucap Santo.

Meski demikian, Santo tidak menampik bahwa perbedaan pandangan ekonomi di antara anggota APEC masih tetap ada. Sebagai contoh, Indonesia konsisten mendukung sistem perdagangan multilateral, sementara AS mulai mengambil pendekatan berbeda lewat kebijakan penerapan tarif dagang.

"Dengan adanya pertemuan bilateral kedua pemimpin, harapannya suasana pembahasan menjadi lebih kondusif. Namun, tentu hasil pertemuan itu bukan untuk membuat agenda baru, melainkan membangun suasana positif bagi agenda yang sudah ditetapkan oleh China selaku tuan rumah," paparnya.

Santo menambahkan, keketuaan APEC setiap tahunnya memang selalu berusaha menghasilkan terobosan baru. Namun, Indonesia berharap capaian tersebut tetap berkesinambungan dengan hasil dari keketuaan sebelumnya, seperti Korea Selatan, Peru, dan Amerika Serikat.

Pada keketuaan tahun ini, China memberikan penekanan khusus pada isu keterbukaan, inovasi, kerja sama, dan konektivitas demi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Menanggapi hal itu, Santo menegaskan posisi Indonesia yang akan tetap mengutamakan proteksi terhadap industri dalam negeri.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Bantah Isu Pembatasan Kuota Pencairan Restitusi Pajak

"Indonesia tentu berusaha untuk tetap berpegang pada prinsip mendukung sistem perdagangan yang terbuka. Namun, kita tetap mempertimbangkan kepentingan nasional. Kita tidak membuka semua sektor begitu saja, ada banyak sektor yang tetap dijaga untuk memastikan industri nasional terlindungi," tegas Santo.

Sebagai negara berkembang, Indonesia wajib menjaga keseimbangan antara keterbukaan ekonomi dan perlindungan sektor domestik yang masih rentan.

Sebagai informasi, APEC merupakan forum kerja sama antara 21 entitas ekonomi di lingkar Samudera Pasifik yang berdiri sejak tahun 1989. Anggotanya meliputi Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam. (Antara) 

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Kemendikdasmen menegaskan anak usia di bawah 7 tahun (minimal 5,5 tahun) tetap bisa masuk SD melalui aturan Permendikdas...

news | 15:30 WIB

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan siap mencopot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama jika terbukti menerima suap di k...

news | 14:15 WIB

Kemensos menggelar lelang terbuka 6,2 kg emas dan ratusan mutiara senilai Rp10,1 miliar. Seluruh hasil lelang akan digun...

news | 13:24 WIB

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa optimistis IHSG bakal meroket naik setelah investor memahami peran PT DSI, BUMN ekspor baru ...

news | 13:19 WIB

Kementerian ESDM tengah menyusun skema distribusi CNG 3 kg pengganti LPG 3 kg. Simak jadwal uji coba, lokasi piloting, d...

news | 11:25 WIB

KPK menyatakan dukungan penuh pada program Makan Bergizi Gratis, namun memberikan catatan keras terkait pengawasan angga...

news | 10:15 WIB

Ketua Umum Rampai Nusantara Mardiansyah Semar menilai pidato Presiden Prabowo soal KEM-PPKF RAPBN 2027 di DPR mampu menj...

news | 09:19 WIB

Anggota Komisi VII DPR mengusulkan anggaran 1.000 bioskop desa di APBN 2027. Langkah ini diambil demi menyelamatkan ruma...

news | 08:00 WIB

Menbud Fadli Zon menjajaki kerja sama strategis dengan delegasi Tiongkok (CAEDA & GDTTC) untuk investasi industri film, ...

news | 07:00 WIB

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) membidik target investasi pariwisata hingga Rp63,5 triliun pada 2026. Fokus diarahkan ...

news | 06:00 WIB