KPK Dorong Reformasi Politik, Serahkan Rekomendasi Tata Kelola Parpol ke Presiden dan DPR

KPK menyerahkan hasil kajian tata kelola parpol kepada Presiden Prabowo dan DPR. Simak 3 rekomendasi utama KPK termasuk desakan RUU Pembatasan Uang Kartal.

Elara | MataMata.com
Sabtu, 25 April 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi - Komisi Pemberantasan Korupsi. ANTARA/Rio Feisal

Ilustrasi - Komisi Pemberantasan Korupsi. ANTARA/Rio Feisal

Matamata.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menyerahkan hasil kajian pencegahan korupsi sektor tata kelola partai politik kepada Presiden Prabowo Subianto dan Ketua DPR RI Puan Maharani. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata mendorong reformasi sistem politik di Indonesia.

"KPK telah melaporkan dan menyampaikan secara resmi hasil kajian beserta poin rekomendasi kepada Presiden dan Ketua DPR," ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).

Budi menjelaskan, terdapat tiga rekomendasi utama yang mendesak untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah maupun legislatif:

1. Perubahan Regulasi Pemilu dan Pilkada KPK merekomendasikan revisi atas UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada. Fokus perubahan mencakup sistem rekrutmen penyelenggara pemilu, metode kampanye, hingga penguatan sanksi hukum.

2. Standardisasi Kaderisasi Partai Politik Perubahan juga didorong pada UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. KPK menekankan perlunya standardisasi pendidikan politik, sistem kaderisasi yang terukur, serta transparansi pelaporan keuangan partai.

3. Pengesahan RUU Pembatasan Uang Kartal Poin ketiga yang menjadi sorotan tajam adalah desakan pembahasan RUU Pembatasan Uang Kartal. KPK menilai aturan ini sangat mendesak untuk memutus rantai politik uang (money politics) yang kerap dilakukan melalui transaksi tunai.

"KPK menilai hal ini mendesak karena maraknya praktik vote buying yang sulit diawasi karena menggunakan uang fisik. Pembatasan transaksi uang kartal adalah langkah strategis pencegahan korupsi," tegas Budi.

Menurut Budi, jika ketiga rekomendasi ini dijalankan, Indonesia akan memiliki sistem tata kelola parpol yang lebih sehat. Selain memperkuat demokrasi, proses kaderisasi dan pencalonan kandidat diharapkan menjadi lebih transparan serta akuntabel. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

KPK menyebut lemahnya kaderisasi parpol memicu mahar politik. Simak usulan KPK mulai dari jenjang kader hingga batasan m...

news | 15:32 WIB

Seskab Teddy Indra Wijaya dan Dirut KAI meninjau progres pembangunan 824 unit hunian layak bagi warga bantaran rel Senen...

news | 14:58 WIB

Kemenkes percepat penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk 26.000 dapur SPPG. Simak syarat dan cara ikut...

news | 14:51 WIB

Menko Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak menganggap pengkritik sebagai musuh, menyusul pelap...

news | 14:15 WIB

Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mendesak PBB mengevaluasi total perlindungan pasukan UNIFIL di Lebanon menyusul gugurny...

news | 13:15 WIB

KPK memeriksa Direktur PT Marco Tour and Travel Syarif Thalib terkait dugaan jual beli kuota haji 2023-2024 yang merugik...

news | 11:30 WIB

Pemprov DKI Jakarta setujui penambahan 5.000 personel Satpol PP untuk kurangi beban kerja. Simak penjelasan Wagub Rano K...

news | 10:15 WIB

Permenhut Nomor 6 Tahun 2026 resmi dirilis untuk memberikan stabilitas dan kepastian hukum bagi investor di proyek karbo...

news | 09:15 WIB

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap strategi 'survival mode' RI. Pemerintah fokus hapus inefisiensi dan tutup kebocoran p...

news | 06:00 WIB

Menaker Yassierli menargetkan pemerataan program Magang Nasional agar lebih inklusif bagi putra daerah dan lulusan baru ...

news | 13:06 WIB