Kementan: Industri Sawit Indonesia Ramah Lingkungan dan Siap Menuju B50

Kementan tegaskan industri sawit Indonesia ramah lingkungan dan penuhi standar global ISPO. Simak peran strategis sawit dalam program B50 dan ekonomi nasional.

Elara | MataMata.com
Jum'at, 24 April 2026 | 13:03 WIB
Kementan: Industri Sawit Indonesia Ramah Lingkungan dan Siap Menuju B50

Kementan: Industri Sawit Indonesia Ramah Lingkungan dan Siap Menuju B50

matamata.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa industri kelapa sawit di Indonesia telah menerapkan prinsip keberlanjutan yang ketat. Langkah ini diambil untuk menjawab tuntutan pasar global sekaligus memastikan komoditas perkebunan tersebut tetap ramah lingkungan.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementan, Kuntoro Boga Andri, membantah tudingan bahwa lahan sawit menyebabkan deforestasi. Ia menekankan bahwa seluruh pelaku industri wajib mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai Permentan Nomor 33 Tahun 2025.

"Standar yang kita berikan diakui negara lain. Sebagai produsen terbesar dunia, kita memiliki nilai keberlanjutan yang universal. Sawit terbukti ramah lingkungan dan memberikan dampak positif bagi ekosistem," ujar Kuntoro dalam 1st International Environment Forum 2026 di Jakarta, Jumat (24/4).

Kuntoro menambahkan, sawit memegang peran krusial dalam ketahanan energi nasional. Indonesia dijadwalkan mulai mengimplementasikan program B50, yakni penggunaan minyak sawit sebesar 50 persen untuk bahan bakar nabati (biofuel) pada Juli 2025.

Saat ini, Indonesia memasok 62 persen kebutuhan sawit dunia. Dengan produktivitas 5 hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya, sawit menjadi komoditas paling efisien dalam penggunaan lahan.

Berdasarkan data Ditjen Perkebunan tahun 2025/2026, luas areal kelapa sawit Indonesia mencapai 16,83 juta hektare. Sektor ini menyumbang devisa non-migas hingga Rp 440 triliun pada 2024 dan menyerap 16 juta tenaga kerja.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Musdhalifah Machmud, menyatakan bahwa tuduhan negatif terhadap sawit seringkali tidak berbasis data. Mengutip data World Wide Fund for Nature (WWF) UK, ia memaparkan bahwa perkebunan sawit global hanya menggunakan 6-11 persen dari total lahan minyak nabati dunia.

"Lahan sawit di dunia hanya 28,85 juta hektare, namun mampu memproduksi 80 juta ton minyak nabati. Sawit memenuhi 34 persen kebutuhan pangan dunia hanya dengan menggunakan 7 persen lahan," jelas Musdhalifah.

Ia membandingkan dengan kedelai (soybean) yang membutuhkan lahan 100-200 juta hektare, namun kontribusinya hanya 15-20 persen. Menurutnya, jika sawit digantikan oleh komoditas lain, dunia justru akan menghadapi krisis lahan yang jauh lebih parah.

"Jika produksi sawit digantikan kedelai atau bunga matahari, dunia akan membutuhkan tambahan ratusan juta hektare lahan baru untuk mencapai volume produksi yang sama," tutupnya. (Antara)

Baca Juga: Ribuan Peserta Terindikasi Curang di UTBK 2026, Puan Maharani Desak Perbaikan Sistem

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

DPR mendesak Kemenkes dan BNPB mengoptimalkan penanganan dampak kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Kemenkes m...

news | 15:50 WIB

Bapanas mempercepat penyaluran bantuan pangan beras alokasi Juli-September 2026 sebesar 30 kg per penerima untuk menstab...

news | 15:12 WIB

Pemerintah menambah 150 ribu ton SPHP jagung dari stok Bulog untuk menjaga stabilitas harga pakan bagi peternak unggas U...

news | 13:51 WIB

Ketua DPR Puan Maharani mendesak aparat menyelidiki lahan bekas karhutla yang dialihfungsikan jadi kebun sawit. Polri te...

news | 13:15 WIB

Perum Bulog siap salurkan bantuan pangan beras periode Oktober-Desember 2026 sesuai arahan Presiden Prabowo. Stok cadang...

news | 12:45 WIB