Arab Saudi Tolak Serangan ke Iran, Dubes Faisal Ungkap Dampak Krisis Energi Global

Dubes Arab Saudi untuk Indonesia menegaskan Kerajaan menolak wilayahnya dijadikan basis serangan ke Iran dan menyerukan stabilitas demi mencegah krisis energi global.

Elara | MataMata.com
Jum'at, 17 April 2026 | 06:00 WIB
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah Al Amoudi (tengah) saat menerima kunjungan MUI di kediamannya di Jakarta, Kamis malam (16/4/2026). (ANTARA FOTO/Asri Mayang Sari)

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah Al Amoudi (tengah) saat menerima kunjungan MUI di kediamannya di Jakarta, Kamis malam (16/4/2026). (ANTARA FOTO/Asri Mayang Sari)

Matamata.com - Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al-Amoudi, menegaskan komitmen Kerajaan untuk tetap menahan diri di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Saudi berkomitmen mencegah kawasan tersebut berubah menjadi medan peperangan yang lebih luas.

"Kami ingin menegaskan bahwa dalam menghadapi peristiwa ini, Kerajaan Arab Saudi selalu mengedepankan sikap menahan diri serta berupaya mencegah kawasan berkembang menjadi medan peperangan yang lebih luas," ujar Dubes Faisal dalam pertemuan di kediamannya, Jakarta, Kamis (16/4) malam.

Sikap tegas tersebut diwujudkan dengan kebijakan menutup akses bagi pihak mana pun yang ingin menggunakan kedaulatan Saudi untuk kepentingan militer. Dubes Faisal menekankan bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah darat, perairan, maupun ruang udaranya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

"Kami tidak bersedia dan menolak keras menjadikan teritorial kami, laut kami, maupun angkasa kami, sebagai tempat untuk menyerang Iran," tegasnya.

Meski demikian, Faisal mengungkapkan bahwa upaya diplomatik yang ditempuh Kerajaan selama ini kerap menemui tantangan, terutama mengingat adanya riwayat serangan Iran terhadap negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi.

Namun, ia kembali menggarisbawahi bahwa posisi resmi Kerajaan saat ini adalah bukan bagian dari peperangan tersebut.

Selain isu keamanan, Dubes Faisal juga menyoroti ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi dunia. Menurutnya, konflik di Timur Tengah memiliki dampak domino yang berbahaya terhadap keamanan energi secara global.

"Dampaknya sudah tampak nyata lewat kenaikan harga tiket pesawat, harga BBM, hingga harga energi. Hal ini juga memicu pembengkakan biaya dalam rantai pasok (supply chain) global," pungkas Faisal. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Mentan Andi Amran Sulaiman siapkan anggaran Rp5 triliun untuk program pompanisasi. Strategi Irigasi Perpompaan ini ditar...

news | 08:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto instruksikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera eksekusi tambang ilegal di kawasan hutan lin...

news | 07:15 WIB

KPK memeriksa mantan Direktur Bisnis Mikro BRI Supari terkait mekanisme lelang proyek EDC senilai Rp2,1 triliun yang did...

news | 14:15 WIB

BRIN kembangkan xanthan gum secara mandiri untuk meningkatkan efisiensi pengeboran migas dan menekan ketergantungan impo...

news | 13:00 WIB

KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali targetkan kapal patroli TNI AL gunakan bahan bakar B50 untuk efisiensi BBM dan kurangi k...

news | 12:00 WIB

Pemkot Jaksel menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu serentak di Phb Setu Babakan besok. Simak alasan mengapa ikan...

news | 11:15 WIB

China dan IMF memperingatkan ancaman krisis ekonomi global akibat blokade Selat Hormuz. Penurunan pasokan minyak 13% han...

news | 11:05 WIB

Menhut Raja Juli Antoni resmi menerbitkan Permenhut 6/2026. Aturan baru ini mempermudah masyarakat adat ikut perdagangan...

news | 10:30 WIB

Perum Bulog segera membangun tiga gudang baru di pulau terluar Natuna pada September 2026 untuk mengantisipasi kelangkaa...

news | 08:00 WIB

Wamentan Sudaryono memastikan stok pupuk subsidi nasional aman di tengah konflik Selat Hormuz. Produksi mencapai 14,5 ju...

news | 07:15 WIB