Wamentan: Perang Iran-AS Picu Lonjakan Permintaan Ekspor Urea Indonesia

Wamentan Sudaryono menyebut konflik Iran-AS membuka peluang ekspor pupuk urea Indonesia ke dunia. Simak penjelasan Pupuk Indonesia soal stok domestik.

Elara | MataMata.com
Kamis, 12 Maret 2026 | 14:32 WIB
Wamentan: Perang Iran-AS Picu Lonjakan Permintaan Ekspor Urea Indonesia

Wamentan: Perang Iran-AS Picu Lonjakan Permintaan Ekspor Urea Indonesia

matamata.com - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan bahwa eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memicu lonjakan permintaan ekspor pupuk urea dari berbagai belahan dunia ke Indonesia.

Krisis di Timur Tengah tersebut dinilai menjadi peluang bagi industri pupuk nasional untuk meningkatkan penetrasi pasar global.

"Gara-gara perang ini, banyak negara menginginkan urea dari kita. Kita diminta untuk ekspor dalam jumlah besar, bahkan banyak negara meminta pupuk urea berapapun harga dan biayanya," ujar Sudaryono dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Sudaryono menjelaskan, situasi sulit akibat ketegangan geopolitik ini secara tidak langsung memberikan daya saing bagi produsen pupuk dalam negeri.

Awalnya, pemerintah berencana melakukan revitalisasi secara bertahap terhadap pabrik-pabrik milik PT Pupuk Indonesia (Persero) yang sudah tua karena dinilai tidak efisien dan berbiaya tinggi.

Namun, tingginya permintaan global saat ini membuat pabrik-pabrik tersebut kembali bernilai ekonomis untuk beroperasi secara maksimal.

"Ini menjadi peluang (opportunity). Pabrik pupuk tua yang tadinya mau kita ganti pelan-pelan, sementara ini bisa berproduksi lagi karena permintaan dunia yang sangat tinggi. Di tengah krisis ini, industri pupuk kita insyaallah ada geliatnya," tambah Sudaryono.

Sebagai informasi, PT Pupuk Indonesia (Persero) saat ini merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Kapasitas produksi grup ini mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk.

Pasokan Domestik Dipastikan Aman Merespons situasi tersebut, Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menegaskan bahwa meskipun peluang ekspor terbuka lebar, prioritas utama tetap menjaga pasokan pupuk bagi petani domestik.

"Kami memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk nasional di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah," kata Yehezkiel.

Baca Juga: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Akan Bangun Pusat Latihan Militer Internasional di Morotai

Ia menjelaskan bahwa fundamental produksi urea nasional memiliki tingkat kemandirian yang kuat. Bahan baku utamanya, yakni gas bumi, sepenuhnya dipasok dari dalam negeri dengan harga yang telah diatur oleh pemerintah.

"Meskipun terjadi eskalasi konflik di Selat Hormuz, kondisi tersebut tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional. Kapasitas produksi kami bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik secara mandiri," tegasnya. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Komisi X DPR RI sedang merumuskan skema agar guru lulusan PPPK tetap bisa mengajar di sekolah swasta asal dengan kesejah...

news | 12:44 WIB

CEO Danantara Rosan Roeslani menyiapkan BUMN sektor finansial, infrastruktur, dan pertambangan untuk IPO di BEI pada 202...

news | 12:41 WIB

Wagub DKI Jakarta Rano Karno bertemu Wakil Wali Kota Seoul Jeong Sang-hun untuk memperkuat kerja sama Sister City di bid...

news | 12:36 WIB

Presiden AS Donald Trump mengeklaim pengapalan minyak di Selat Hormuz kini melampaui tingkat sebelum perang dengan Iran,...

news | 09:00 WIB

KPK memanggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sebagai saksi kasus dugaan suap HGB PT Summarecon Agung di Kabupaten Bogor pa...

news | 08:30 WIB