Intelijen Sebut Tak Ada Ancaman, Mengapa Trump Tetap Siagakan Kapal Induk untuk Gempur Iran?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikukuh mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran.

Elara | MataMata.com
Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:00 WIB
Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (. ANTARA/Anadolu/py/am.)

Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (. ANTARA/Anadolu/py/am.)

Matamata.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikukuh mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran.

Padahal, laporan terbaru intelijen AS dan Israel menyimpulkan bahwa program nuklir Teheran saat ini tidak menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan Amerika Serikat.

Mengutip laporan khusus The New York Times, Jumat (30/1/2026), pejabat AS dan Eropa mengungkapkan minimnya bukti bahwa Iran telah memulai kembali pengayaan uranium tingkat tinggi.

Enam bulan pasca-serangan AS pada Juni 2025, Teheran juga dilaporkan belum memproduksi rudal baru.

Kondisi ini memicu tanda tanya besar di kalangan diplomatik terkait urgensi ancaman baru yang dilontarkan Washington pekan ini. Sebelumnya, pada Juni 2025, Trump telah memperingatkan bahwa serangan di masa depan akan "semakin parah" jika Iran menolak berdamai.

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan posisi keras presiden. "Negara pendukung terorisme nomor satu di dunia tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir," tegasnya.

Pengerahan Militer Skala Besar Sebagai bentuk gertakan, Departemen Pertahanan AS telah menghimpun kekuatan militer masif di Timur Tengah.

Satuan tugas ini mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln, armada pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, serta puluhan ribu personel tambahan.

Namun, di balik layar, sejumlah pejabat senior AS secara anonim mengakui ketidakpastian dinamika jika eskalasi benar-benar terjadi.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam rapat dengar pendapat dengan Senat, Rabu (28/1), juga mengakui bahwa konsekuensi runtuhnya kepemimpinan Iran masih menjadi "pertanyaan terbuka".

Baca Juga: Hadirkan Program 'Ramadan Penuh Cinta', Deddy Mizwar Beri Tontonan Bermanfaat

Rubio menyoroti kompleksitas kekuasaan di Teheran yang terbagi antara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Kondisi Situs Nuklir Iran Laporan intelijen meyakini cadangan uranium Iran yang terdampak serangan tahun lalu masih terkubur dan sulit dijangkau, sehingga produksi senjata dalam waktu dekat hampir mustahil dilakukan.

Meski demikian, Teheran terpantau terus memperdalam penggalian di situs nuklir dekat Natanz dan Isfahan sebagai langkah antisipasi.

Langkah agresif Trump ini mendapat kritik tajam dari legislator Partai Demokrat. Anggota DPR AS, Jason Crow, menekankan bahwa unjuk kekuatan militer bukanlah solusi jangka panjang.

"Yang dibutuhkan saat ini bukanlah pengerahan senjata, melainkan kesepakatan permanen yang dapat diverifikasi untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," ujar Crow. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

ITDC berkomitmen menerapkan pariwisata berkelanjutan di KEK Mandalika dengan mengalokasikan 30% lahan untuk RTH dan mena...

news | 15:37 WIB

Majelis Kehormatan DPP Partai Gerindra menggelar sidang etik tertutup terhadap Anggota DPRD Jember, Achmad Syahri As Sid...

news | 15:34 WIB

Pemkot Palembang resmi memberlakukan denda maksimal Rp500 ribu dan sanksi sosial sapu jalanan bagi pembuang sampah semba...

news | 15:30 WIB

Menko Pangan Zulkifli Hasan menargetkan pembangunan 2.000 Kampung Nelayan di Indonesia pada 2026, lengkap dengan cold st...

news | 14:28 WIB

Penebusan pupuk subsidi melonjak 36% menjadi 3,4 juta ton per Mei 2026. PT Pupuk Indonesia (Persero) siapkan strategi di...

news | 14:20 WIB

Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni sebut penyelamatan uang negara Rp10,27 triliun oleh Kejagung di era Prabowo jad...

news | 14:14 WIB

Presiden Prabowo Subianto membeli sapi kurban jenis Simental seberat 1,05 ton dari peternak di Bantul, DIY seharga Rp110...

news | 14:03 WIB

Wamendag Dyah Roro Esti memperkuat kerja sama ekonomi RI-Rusia di Kazan. Nilai perdagangan naik 21,7%, targetkan ratifik...

news | 08:08 WIB

Presiden AS Donald Trump memaparkan sejarah panjang hubungan AS-China, mulai dari pengaruh Konfusius hingga kerja sama e...

news | 07:15 WIB

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono meresmikan pabrik pengolahan ikan PT BIG di Bintan. Tegaskan komitmen stop kapal luar ...

news | 06:00 WIB