Dubes RI Sesalkan Pelaku Penganiayaan PMI di Malaysia: Berpendidikan tapi Bertindak Keji

Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Dato Indera Hermono, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelaku penganiayaan terhadap pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sumatera Barat.

Elara | MataMata.com
Rabu, 19 November 2025 | 12:00 WIB
Duta Besar RI untuk Malaysia Dato' Indera Hermono memberikan keterangan di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (18/11/2025). ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga

Duta Besar RI untuk Malaysia Dato' Indera Hermono memberikan keterangan di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (18/11/2025). ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga

Matamata.com - Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Dato’ Indera Hermono, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelaku penganiayaan terhadap pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sumatera Barat.

Ia menyebut, pelaku yang melakukan kekerasan brutal tersebut justru merupakan sosok muda dan berpendidikan.

“Orang (pelaku) ini masih muda dan berpendidikan, melakukan kekerasan begitu coba. Ini bagaimana sih sebetulnya orang-orang itu melihat pekerja Indonesia? Apa melihat pekerja Indonesia itu kayak budak yang boleh diperlakukan sesuka hati? Kan nggak boleh begitu ya,” ujar Dubes Hermono di Kuala Lumpur, Selasa.

Kasus ini mencuat ketika seorang PMI berhasil melarikan diri dari tindak kekerasan majikannya. Ia kabur secara dramatis melalui jendela lantai 29 kondominium tempatnya bekerja dan merosot ke lantai 27 untuk menyelamatkan diri.

Dari foto yang ditunjukkan Dubes Hermono, korban terlihat mengalami luka lebam serta luka bakar parah setelah disiram air panas. Saat ini, PMI tersebut sudah diamankan di shelter KBRI Kuala Lumpur, menjalani visum, dan mendapat pendampingan untuk pelaporan ke kepolisian.

Menurut Hermono, pelaku serta keluarganya sempat mendatangi KBRI untuk meminta maaf dan berharap masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Namun permintaan itu ditolak.

“Sebetulnya majikannya sudah datang ke KBRI, minta maaf. Tapi nggak ada, nggak bisa orang menyiksa lalu minta maaf, lalu selesai, enak benar gitu kan,” tegasnya.

Dubes RI itu juga mengungkapkan bahwa pelaku merupakan pasangan suami-istri asal Malaysia yang berprofesi sebagai koas atau ko-asisten dokter.

“Dia ko-asisten dokter gitu ya. Sebagai dokter pun masih tega-teganya menyiksa. Dia yang harusnya punya pemahaman lebih baik mengenai hak asasi manusia, tapi menyiksa,” sesal Hermono.

Korban diketahui sebagai pekerja nonprosedural yang masuk Malaysia menggunakan visa wisata. Hermono menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan keberangkatan calon PMI dari Indonesia.

Baca Juga: Sumut Jadi Provinsi Ketiga Terapkan Restorative Justice, Kejagung: Penegakan Hukum Kini Lebih Humanis

Ia meminta kepolisian Malaysia menindak kasus tersebut sesuai hukum, sekaligus mendesak otoritas imigrasi Indonesia untuk memperketat profiling warga yang hendak bepergian ke luar negeri agar pergerakan pekerja nonprosedural dapat dicegah.

“Kalau tidak ada pencegatnya, maka MoU ini nggak ada gunanya... MoU itu menjadi tidak efektif kalau pekerja nonprosedural itu terus mengalir,” jelasnya, merujuk pada nota kesepahaman perlindungan pekerja domestik Indonesia–Malaysia.

Hermono menekankan bahwa imigrasi merupakan pihak paling krusial dalam proses pencegahan PMI nonprosedural.

“Kalau kita lihat kan siapa yang membuat paspor, kan imigrasi... Satu-satunya yang dilalui, itu cuma imigrasi yaitu pada saat pembuatan paspor, dan saat keluar dari tempat pemeriksaan imigrasi,” katanya.

Selama tujuh tahun bertugas di Malaysia, termasuk lima tahun sebagai duta besar, Hermono menegaskan perlunya perbaikan serius dalam sistem pengawasan karena imigrasi adalah pintu utama yang dilewati calon PMI nonprosedural sebelum berangkat ke luar negeri. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

PT KAI sukses layani 813.141 pelanggan selama libur panjang Imlek 2026. Simak rute favorit dan penjelasan mengapa okupan...

news | 12:15 WIB

Bea Cukai dan Polri bongkar laboratorium sabu di apartemen Sunter. Dua WNA Iran ditangkap dengan barang bukti 13 kg sabu...

news | 11:15 WIB

Mahasiswa Indonesia di kampus-kampus top Amerika Serikat (AS) sampaikan apresiasi dan optimisme atas kinerja serta diplo...

news | 10:15 WIB

Presiden AS Donald Trump umumkan realisasi investasi Jepang Rp9.268 triliun di sektor minyak, gas, dan mineral. Simak de...

news | 09:00 WIB

Presiden Prabowo Subianto tiba di Washington DC dan disambut hangat oleh diaspora serta mahasiswa Indonesia. Simak agend...

news | 08:00 WIB

Presiden Prabowo tiba di Washington DC untuk bertemu Donald Trump, menandatangani perjanjian dagang ART, dan menghadiri ...

news | 07:00 WIB

BGN Kabupaten Lebak memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap jalan selama Ramadhan 1447 H dengan penyesuaian ...

news | 06:00 WIB

TNI AL gelar latihan Operasi Pertahanan Pantai di Sungailiat, Bangka Belitung. Libatkan 9 KRI, 7 pesawat, dan 1.443 pers...

news | 12:43 WIB

GP Ansor lakukan panen padi organik dan tanam 3.000 bibit kelapa di Blora untuk dukung ketahanan pangan nasional dan pro...

news | 12:36 WIB

Pertamina menambah 1,09 juta tabung LPG 3 kg di Jawa Timur untuk menjamin stok selama libur Imlek dan jelang Ramadan 144...

news | 11:15 WIB