Ilustrasi - Bendera negara Jepang dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)
Matamata.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Jepang telah memulai tahap awal realisasi komitmen investasi sebesar 550 miliar dolar AS (sekitar Rp9.268 triliun). Investasi jumbo ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan dagang yang diteken pada Juli lalu, yang kini menyasar tiga proyek besar di sektor minyak, gas, dan mineral kritis.
Melalui platform Truth Social pada Selasa (17/2), Trump menyatakan bahwa "Kesepakatan Dagang Bersejarah" ini dirancang untuk merevitalisasi basis industri Amerika, menciptakan ratusan ribu lapangan kerja, serta memperkuat keamanan nasional.
"Kesepakatan Dagang BESAR kami dengan Jepang baru saja diluncurkan," tulis Trump.
Tiga proyek strategis yang menjadi fokus utama dalam tahap ini meliputi pengembangan minyak dan gas di Texas, pembangunan pembangkit listrik di Ohio, serta fasilitas pengolahan mineral kritis di Georgia. Trump mengklaim bahwa proyek-proyek berskala raksasa ini tidak akan terwujud tanpa instrumen kunci kebijakannya, yaitu tarif impor.
Secara spesifik, Trump menyoroti pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas di Ohio yang digadang-gadang akan menjadi yang terbesar yang pernah dibangun. Selain itu, fasilitas baru gas alam cair (LNG) di Teluk Meksiko diharapkan mampu menggenjot ekspor dan memperkokoh dominasi energi AS di pasar global.
Terkait sektor mineral kritis, Trump menegaskan fasilitas di Georgia akan membantu mengakhiri ketergantungan Amerika pada pasokan luar negeri yang ia sebut sebagai kebijakan "bodoh" di masa lalu.
"Amerika membangun lagi. Amerika memproduksi lagi. Dan Amerika menang lagi. Ini waktu yang sangat menarik dan bersejarah bagi Amerika Serikat dan Jepang," tambah Trump.
Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan Juli lalu, Jepang akan menanamkan modal atas arahan AS, dengan ketentuan Amerika Serikat menerima 90 persen dari keuntungan yang dihasilkan. Sebagai bagian dari timbal balik, Tokyo akan dikenakan tarif sebesar 15 persen, turun dari tarif sebelumnya yang mencapai 25 persen. (Antara)