Pupuk Indonesia Revitalisasi Pabrik Tua untuk Tekan Konsumsi Energi dan Biaya Produksi

PT Pupuk Indonesia (Persero) merevitalisasi sejumlah pabrik pupuk berusia tua guna meningkatkan efisiensi produksi dan menekan pemborosan energi.

Elara | MataMata.com
Jum'at, 07 November 2025 | 10:15 WIB
Pupuk Indonesia Revitalisasi Pabrik Tua untuk Tekan Konsumsi Energi dan Biaya Produksi

Pupuk Indonesia Revitalisasi Pabrik Tua untuk Tekan Konsumsi Energi dan Biaya Produksi

matamata.com - PT Pupuk Indonesia (Persero) merevitalisasi sejumlah pabrik pupuk berusia tua guna meningkatkan efisiensi produksi dan menekan pemborosan energi.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengatakan revitalisasi pabrik tua sejalan dengan semangat efisiensi yang tengah digencarkan pemerintah.

“Terdapat tujuh proyek yang akan digarap hingga 2029, salah satunya revitalisasi pabrik pupuk berusia tua. Tujuannya untuk menekan rasio konsumsi energi agar mendekati standar rata-rata dunia,” kata Yehezkiel saat kunjungan ke Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (7/11).

Menurut dia, standar konsumsi energi dunia berada di kisaran 24 MMBTU (Million British Thermal Units) per ton. Melalui revitalisasi, Pupuk Indonesia menargetkan efisiensi energi di seluruh grup bisa mendekati angka tersebut.

Saat ini, Pupuk Indonesia tengah melaksanakan pembaruan pada pabrik tertua milik PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) serta proyek revitalisasi Pabrik Pusri IIIB yang akan menggantikan Pusri III dan IV. Pabrik lama dinilai sudah tidak efisien dalam penggunaan energi.

Proyek Pusri IIIB dimulai pada Desember 2023 dan ditargetkan rampung dalam 40 bulan, sehingga dapat beroperasi penuh pada 2027.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, turut mendorong percepatan revitalisasi pabrik tua milik Pupuk Kujang agar lebih efisien dan mampu mendukung target swasembada pangan nasional.

“Pabrik Pupuk Kujang dibangun pada 1975, artinya sudah berusia hampir 50 tahun. Idealnya, umur operasional pabrik hanya 15–20 tahun,” ujar Zulkifli Hasan, atau yang akrab disapa Zulhas, usai meninjau pabrik Pupuk Kujang di Karawang.

Ia mengibaratkan kondisi pabrik tua seperti kendaraan yang usianya sudah terlalu lama. “Kalau diibaratkan, Pupuk Kujang masih menggunakan bus tahun 1975, sedangkan pihak lain sudah memakai bus keluaran 2025. Tentu saja tidak efisien,” ujarnya.

Meski demikian, Zulhas mengapresiasi peran Pupuk Kujang yang tetap berkontribusi terhadap program swasembada pangan. Ia menyampaikan, pemerintah menekankan pentingnya efisiensi produksi agar subsidi pupuk dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Dua Akademisi Nilai Soeharto Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional

“Subsidi pupuk tetap sebesar Rp44 triliun. Dengan kebijakan market to market, dana itu bisa digunakan untuk membeli bahan baku. Pupuk Indonesia kini bisa membangun satu pabrik baru tiap tahun, sekaligus memberikan potongan harga subsidi hingga 20 persen,” katanya.

Menurut dia, pembangunan satu pabrik baru membutuhkan investasi sekitar Rp8 triliun. Dengan kebijakan efisiensi tersebut, Pupuk Indonesia diyakini mampu merevitalisasi pabrik-pabrik tua sekaligus membangun fasilitas baru untuk mendukung ketahanan pangan nasional. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Wamen LH Diaz Hendropriyono tinjau penanganan karhutla di Tanjung Jabung Timur, Jambi. Ia memuji taktik estafet air 11 k...

news | 11:34 WIB

Presiden Prabowo Subianto instruksikan Satgas PKH untuk menertibkan kawasan hutan dan tambang ilegal secara tegas, trans...

news | 10:15 WIB

Pemprov DKI Jakarta menjajaki kerja sama teknologi pengelolaan air bersih berbasis IoT dan AI dengan Shenzhen Water Grou...

news | 09:15 WIB

Kementerian Kebudayaan resmi mengumumkan 20 pemenang Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan untuk memperkuat memori...

news | 08:15 WIB

Wapres Gibran pastikan pembangunan 699 unit huntap di Tapanuli Selatan dimulai bulan ini untuk korban bencana hidrometeo...

news | 07:00 WIB