Petani Tebu Jatim Tagih Janji Swasembada, Desak Pemerintah Tertibkan Tata Niaga Gula

Petani tebu di Jawa Timur mendesak pemerintah melakukan perombakan menyeluruh terhadap tata niaga gula nasional. Hal ini menyusul rendahnya serapan gula hasil petani akibat membanjirnya gula rafinasi di pasar konsumsi sejak awal musim giling tahun in

Elara | MataMata.com
Kamis, 07 Agustus 2025 | 12:00 WIB
Forum Petani Tebu. (ANTARA/HO-Forum Petani Tebu)

Forum Petani Tebu. (ANTARA/HO-Forum Petani Tebu)

Matamata.com - Petani tebu di Jawa Timur mendesak pemerintah melakukan perombakan menyeluruh terhadap tata niaga gula nasional. Hal ini menyusul rendahnya serapan gula hasil petani akibat membanjirnya gula rafinasi di pasar konsumsi sejak awal musim giling tahun ini.

"Kami sudah mulai panen dan menggiling tebu. Tapi gula kami tidak ada yang beli. Pasar kebanjiran gula rafinasi yang dijual murah. Ini jelas merugikan kami sebagai petani rakyat," ujar Koordinator Forum Petani Tebu, Tasirin, dalam keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Kamis (7/8).

Tasirin, yang juga anggota DPRD Kabupaten Lamongan, menyebutkan persoalan rembesan gula rafinasi terus berulang setiap tahun tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah.

“Setiap tahun selalu begini. Tapi tidak pernah ada langkah tegas. Kalau terus dibiarkan, petani tebu bisa punah,” tegasnya.

Menurutnya, sejak program swasembada gula dicanangkan, banyak petani mulai antusias kembali menanam tebu. Namun, semangat itu kembali padam lantaran hasil produksi mereka kalah bersaing dengan gula impor.

‘’Sejak tahun lalu, di Jatim luas tanaman tebu milik petani terus bertambah. Apalagi diikuti dengan harga yang bagus sehingga petani lebih bergairah. Namun, ketika mulai bergairah, serapan gula milik petani terganggu lagi oleh gula rafinasi impor yang beredar di pasar-pasar tradisional,’’ ungkapnya.

Pemerintah sebelumnya telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati. Kebijakan ini juga dibarengi dengan restrukturisasi kelembagaan PTPN Group serta perbaikan budidaya tebu oleh Kementerian Pertanian.

Namun, perbaikan di sektor hulu tidak diimbangi pembenahan sistem distribusi. Gula rafinasi dan gula fortifikasi hasil impor kembali ditemukan di pasar tradisional, membuat gula lokal menumpuk di gudang-gudang petani.

Sebagai catatan, gula rafinasi merupakan hasil pemurnian gula mentah (raw sugar), sedangkan gula fortifikasi adalah gula yang telah ditambahkan zat gizi mikro. Keduanya berasal dari impor dan dijual lebih murah daripada Gula Kristal Putih (GKP) hasil produksi petani lokal.

Tasirin menduga peredaran kedua jenis gula tersebut di pasar konsumsi tak lepas dari permainan para mafia gula.

Baca Juga: Proses Jadi WNI Hanya Lima Hari, Vincent Verhaag Puji Layanan Digital Kemenkum

‘’Masalah ini tidak akan pernah selesai tanpa revolusi tata niaga gula oleh pemerintah. Harus ada langkah tegas pemerintah agar petani yang mulai bersemangat kembali menanam tebu ini terlindungi,’’ tandasnya.

Ia juga menekankan, jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya petani yang merugi, tetapi juga pabrik gula yang akan terdampak akibat minimnya pasokan tebu. Hal ini bisa mengancam target swasembada gula nasional.

Tasirin mendorong pemerintah mengambil langkah strategis seperti menertibkan total distribusi gula rafinasi di pasar konsumsi, membuka transparansi harga dan jalur distribusi gula petani, serta memperkuat kelembagaan niaga yang melibatkan koperasi petani, BUMN pangan, dan offtaker yang adil.

‘’Kami tidak butuh subsidi. Kami butuh sistem yang adil,’’ tegasnya.

Meski mengapresiasi langkah perbaikan industri gula oleh pemerintah, Tasirin menekankan pentingnya pembenahan total dari hulu ke hilir.

‘’Tanpa itu, target swasembada gula hanya akan jadi ilusi,’’ pungkasnya. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

WHO memperingatkan sistem kesehatan Gaza di ambang kehancuran. Stok medis dasar habis dan 18.000 pasien menunggu evakuas...

news | 15:04 WIB

Perum Bulog dan Kementan jamin stok beras nasional aman hingga 324 hari ke depan di tengah gejolak perang Timur Tengah d...

news | 14:36 WIB

China kecam serangan AS-Israel ke Iran dan tegaskan dukungan politik bagi kedaulatan Teheran. Simak laporan lengkap evak...

news | 11:45 WIB

Situs megalit berusia 1.000 tahun di Dongi-Dongi, Poso, diduga dirusak penambang emas ilegal. Simak kronologi dan penjel...

news | 09:15 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut harga BBM subsidi berpotensi naik jika harga minyak dunia terus melonjak ...

news | 07:00 WIB

Dua kapal tanker Pertamina terjebak di Selat Hormuz akibat konflik Iran-AS. Pemerintah Indonesia intensifkan negosiasi d...

news | 15:00 WIB

BRIN kembangkan Inacell, material MCC dari limbah tandan kosong sawit untuk industri farmasi & pangan. Solusi ramah ling...

news | 14:15 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman puji hakim PN Batam yang tak vonis mati ABK pembawa 2 ton sabu, sebut hakim sudah ...

news | 13:30 WIB

Kabar baik untuk guru madrasah! Kemenag mulai cairkan TPG secara bertahap pekan ini. Simak jadwal penerbitan SKAKPT taha...

news | 12:00 WIB

Komisi Reformasi Polri siapkan rekomendasi besar untuk Presiden Prabowo, mulai dari revisi 32 regulasi internal hingga e...

news | 11:15 WIB