Peternakan ayam petelur di kandang perunggasan modern. ANTARA/HO-Kementan
Matamata.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa peternak rakyat menjadi prioritas utama dalam pengembangan industri perunggasan nasional. Langkah ini diambil guna menjaga keberlanjutan usaha dan kesejahteraan peternak domestik di tengah dinamika investasi sektor unggas.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menyatakan bahwa pemerintah memastikan setiap investasi yang masuk harus memberikan manfaat nyata bagi peternak dalam negeri.
"Investasi harus memperkuat produksi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ketahanan pangan, bukan justru membuat peternak rakyat tersisih di negaranya sendiri," ujar Agung dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Agung menjelaskan bahwa pembangunan subsektor peternakan harus dilakukan secara terukur melalui kemitraan nasional yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, hingga BUMN sektor pangan. Menurutnya, arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sangat tegas: investasi harus memperkuat struktur industri dari hulu ke hilir tanpa memperlebar ketimpangan ekonomi.
Saat ini, Kementan tengah memperkuat model Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) berbasis kemitraan nasional. Model ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan, pakan, pengolahan, hingga distribusi produk protein hewani.
"Kondisi produksi telur kita saat ini surplus. Tantangan utamanya bukan lagi peningkatan produksi, melainkan penguatan pasar, distribusi, dan perlindungan terhadap peternak rakyat," tambah Agung.
Senada dengan hal tersebut, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menilai penguatan industri lokal sangat penting untuk mendukung program strategis nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Industri dalam negeri dan peternak mandiri sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan protein hewani tanpa harus bergantung pada kerja sama pihak luar negeri," kata Tauhid.
Ia memperingatkan, dominasi asing pada sektor yang sudah dikuasai lokal justru berisiko menarik nilai tambah ekonomi ke luar negeri dan menekan perekonomian nasional.
Sementara itu, Guru Besar Sosial Ekonomi Peternakan UGM, Budi Guntoro, menyoroti adanya surplus struktural pada komoditas telur. Ia menilai masalah utama saat ini adalah ketimpangan pasar dan lemahnya posisi tawar peternak kecil.
Baca Juga: Anggia Novita Bangga Sang Putra Sulung, Aldy Riva jadi Penemu Teknologi Canggih
"Dalam kondisi surplus, langkah yang tepat adalah memperkuat koperasi dan kemitraan lokal, bukan membuka ruang dominasi bagi modal besar atau asing," tegas Budi. (Antara)