Foto udara permukiman yang berdekatan dengan air rob dan menutupi lahan warga di Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026). Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengusulkan kepada Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) agar Pekalongan dapat masuk wilayah yang diprioritaskan dalam pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSW) pada sesi pertama selain Teluk Jakarta dan Semarang-Kendal-Demak. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/tom.
Matamata.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan komitmennya untuk menggerakkan peran perguruan tinggi dan ekosistem riset dalam mendukung pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa. Proyek ini akan berbasis pada penguatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
"Ini memang tantangan besar, tetapi sekaligus membuka peluang strategis bagi pengembangan keilmuan, teknologi, dan industri nasional. Kita membutuhkan pemodelan hidrodinamika yang presisi, teknologi konstruksi pantai yang adaptif, inovasi material, hingga pemahaman sosial ekonomi masyarakat pesisir secara komprehensif," ujar Brian Yuliarto di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Menteri Brian mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah mendorong para guru besar, dosen, dan peneliti di berbagai perguruan tinggi untuk mengintensifkan riset relevan, baik dari aspek teknis maupun dampak sosial kemasyarakatan.
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, Brian menekankan pentingnya penguasaan teknologi nasional dalam proyek ini. Ia berharap pembangunan Giant Sea Wall menjadi momentum transfer teknologi bagi anak bangsa melalui jalur akademisi.
"Ke depan, kita berharap Indonesia tidak hanya mampu membangun, tetapi juga dikenal sebagai pemilik teknologi pengembangan tanggul laut," tegasnya.
Pembangunan Giant Sea Wall merupakan instruksi langsung Presiden RI Prabowo Subianto dan telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek ini bertujuan melindungi pesisir utara Jawa dari ancaman penurunan muka tanah (land subsidence) serta kenaikan permukaan air laut.
Sebagai langkah konkret, sebuah Nota Kesepahaman (MoU) telah diteken untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi sebagai pusat unggulan (center of excellence). Langkah ini bertujuan menyediakan tenaga ahli multidisiplin serta mengintegrasikan pendidikan dan riset dalam proyek nasional tersebut.
Sejumlah kampus ternama, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dilaporkan telah terlibat aktif dalam penyediaan kajian teknis dan pengembangan teknologi.
Keterlibatan ini selaras dengan kebijakan "Diktisaintek Berdampak" yang menekankan bahwa pendidikan tinggi harus memberikan solusi nyata bagi persoalan strategis bangsa.
Implementasi kerja sama ini diharapkan mempercepat integrasi kebijakan di lapangan sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai motor penggerak solusi berbasis sains. (Antara)
Baca Juga: Erick Thohir Dorong Transformasi SEA Games Jadi Jembatan Menuju Olimpiade