Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (7/3/2026). ANTARA/Imamatul Silfia
Matamata.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sinyal bahwa pemerintah membuka peluang untuk menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Langkah ini akan diambil jika lonjakan harga minyak dunia terus berlanjut hingga melampaui kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Kalau memang anggarannya sudah tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain, kami harus berbagi beban dengan masyarakat. Artinya, ada potensi kenaikan harga BBM," ujar Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3).
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa kenaikan harga adalah opsi terakhir. Berdasarkan kalkulasi Kemenkeu, defisit APBN berisiko membengkak hingga 3,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) jika harga minyak mentah bertahan di level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun tanpa adanya intervensi pemerintah.
Langkah Mitigasi dan Realokasi Anggaran Untuk menjaga kesehatan fiskal, Kemenkeu telah menyiapkan langkah mitigasi selain penyesuaian harga, yakni melalui realokasi belanja negara. Anggaran pada program dengan urgensi rendah akan digeser untuk menambal kebutuhan subsidi.
Salah satu yang disoroti adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Purbaya menjelaskan, pergeseran anggaran mungkin dilakukan pada kegiatan pendukung, bukan pada fungsi inti penyediaan makanan.
"Program MBG tetap bagus dan menjadi prioritas. Namun, kita cegah belanja yang tidak mendukung langsung penyediaan makanan, seperti pengadaan kendaraan bermotor bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Itu yang bisa kita realokasi," tegas Menkeu.
Optimisme di Tengah Konflik Global Lonjakan harga minyak saat ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Tercatat, harga minyak jenis Brent naik 4,93 persen ke level 85,41 dolar AS per barel, sementara US WTI melonjak 8,51 persen ke posisi 81,01 dolar AS per barel.
Angka ini jauh di atas rata-rata harga Januari 2026 yang berada di kisaran 57–64 dolar AS per barel.
Kendati demikian, Purbaya optimistis Indonesia mampu melewati fase ini. Ia merujuk pada pengalaman masa lalu saat harga minyak dunia sempat menyentuh rekor 150 dolar AS per barel.
"Ekonomi kita tetap bertahan meski melambat. Kita punya pengalaman menghadapi situasi yang lebih berat dari sekarang," pungkasnya.
Baca Juga: Syarief Khan akan Somasi dan Laporkan Selebgram ke Polisi, dengan Dugaan Fitnah
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya sempat menyatakan bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman dan harga subsidi tidak akan naik dalam waktu dekat, terutama menjelang momentum Idul Fitri. (Antara)