Suasana hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Aceh. (ANTARA/HO - Kementerian PU)
Matamata.com - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mendorong percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh. Target utamanya adalah memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian saat memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H.
"Kita dorong secepat mungkin. Kami bekerja keras agar saat Ramadhan, kalau bisa nol warga yang tinggal di tenda. Tujuannya agar masyarakat bisa menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan maksimal," ujar Dody dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/1).
Saat ini, Kementerian PU tengah menyelesaikan tahap akhir pembangunan huntara di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Proyek ini telah mencapai progres 98,75 persen dan segera siap dimanfaatkan oleh warga.
Pembangunan huntara ini menggunakan metode inovatif Modular Lite (MOLI). Teknologi ini memungkinkan konstruksi dilakukan secara cepat tanpa alat berat, sehingga sangat efektif diterapkan di lokasi pascabencana. Proyek ini merupakan bagian dari paket Penanganan Keadaan Darurat Pascabencana Aceh 1.
Secara teknis, kompleks Huntara 1 di Aceh Tamiang berdiri di atas lahan seluas 5.427 meter persegi dengan total luas bangunan 2.052 meter persegi. Fasilitas ini terdiri dari 7 blok hunian yang mencakup 114 modul untuk menampung 84 kepala keluarga (sekitar 336 jiwa).
Fasilitas pendukung pun telah disiapkan secara lengkap, mulai dari 42 unit mandi, cuci, kakus (MCK), area komunal multifungsi, area jemur, mushola, hingga genset dan toren air. Untuk kebutuhan air bersih, pemerintah menyediakan sumur bor dan tandon, sementara pengolahan air kotor menggunakan sistem biotek dan pasokan listrik dari PLN.
Menteri Dody menekankan bahwa penyelesaian ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah ingin penanganan bencana tidak hanya menyentuh fisik bangunan, tetapi juga menjamin kenyamanan psikologis warga.
"Ini sesuai arahan Bapak Presiden. Kami memberikan dukungan penuh agar masyarakat di Aceh dan Sumatera Barat bisa beribadah dengan tenang selama Ramadhan, meski masih dalam kondisi pascabencana," pungkasnya. (Antara)