Trump Klaim Kuasai Minyak Venezuela, Airlangga: Dampak ke Dunia Tidak Ada!

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan klaim Donald Trump soal minyak Venezuela tak pengaruhi pasar global. Simak analisis lengkapnya di sini.

Elara | MataMata.com
Jum'at, 09 Januari 2026 | 13:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya, Jakarta, Jumat (9/1/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya, Jakarta, Jumat (9/1/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)

Matamata.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perolehan 30-50 juta barel minyak dari Venezuela tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar energi global.

Airlangga menjelaskan bahwa kapasitas produksi minyak Venezuela saat ini masih berada di bawah 1 juta barel per hari (bpd), atau kurang dari satu persen dari total produksi minyak dunia.

Dengan volume tersebut, pengalihan minyak dalam jumlah yang diklaim Trump dianggap hanya berpengaruh kecil terhadap stabilitas pasokan global.

“Enggak (berdampak). Pertama, produksi minyak Venezuela itu kan di bawah 1 juta barel per hari, jadi di bawah satu persen. Jadi secara global dampaknya tidak ada,” ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Menurut Airlangga, dinamika kesepakatan tersebut lebih bersifat domestik bagi Amerika Serikat dibandingkan memberikan guncangan besar bagi pasar energi dunia secara keseluruhan.

Sebelumnya, Presiden ke-47 AS Donald Trump pada Selasa (6/1) mengumumkan bahwa pemerintahan interim di Venezuela telah setuju untuk menyerahkan 30-50 juta barel minyak kepada Washington.

Minyak tersebut rencananya akan dijual di pasar dengan harga berlaku, dan hasilnya akan dikelola di bawah perintah administrasinya.

Trump mengklaim langkah ini bertujuan untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi AS sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak.

Secara matematis, dengan asumsi harga minyak di kisaran 56 dolar AS per barel, volume 50 juta barel tersebut diperkirakan bernilai hingga 2,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp47 triliun.

Terkait posisi Indonesia terhadap transisi pemerintahan di Venezuela, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah masih terus memantau perkembangan situasi politik dan ekonomi di negara Amerika Latin tersebut.

Baca Juga: Michelle Ziudith Berpasangan Mesra dengan Rio Dewanto di Sinetron 'Jejak Duka Diandra'

"Kita monitor saja," pungkasnya.  (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan pemerasan dalam proses penegakan hukum yang menjerat tig...

news | 15:15 WIB

Iran meluncurkan serangan rudal dan UAV besar-besaran ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Bahra...

news | 14:15 WIB

Otorita IKN (OIKN) memprioritaskan pembangunan gedung legislatif dan yudikatif pada 2026. Simak target pemindahan 4.000 ...

news | 13:15 WIB

Antisipasi krisis energi akibat blokade Selat Hormuz, Pemerintah Korea Selatan resmi terapkan sistem ganjil-genap kendar...

news | 12:15 WIB

Ombudsman RI meminta dukungan Komisi II DPR untuk realisasi anggaran pengawasan program prioritas seperti Makan Bergizi ...

news | 11:15 WIB

Menteri PPPA Arifah Fauzi meresmikan Ruang Bersama Indonesia (RBI) di Kelurahan Donan, Cilacap. Simak fungsinya untuk pe...

news | 10:23 WIB

Presiden Prabowo Subianto berhasil mengantongi komitmen investasi sebesar Rp173 triliun dari Korea Selatan, mencakup sek...

news | 09:15 WIB

Menaker Yassierli tegaskan aturan WFH satu hari seminggu bagi karyawan swasta per 1 April 2026 hanya bersifat imbauan. S...

news | 08:15 WIB

Malaysia resmi berlakukan WFH bagi pegawai pemerintah mulai 15 April 2026 demi hemat BBM. Simak perbandingannya dengan k...

news | 07:15 WIB

Presiden Prabowo tiba di Jakarta usai lawatan ke Jepang & Korsel. Membawa komitmen investasi Rp380 triliun dan 10 MoU st...

news | 06:00 WIB