Korsel Terapkan Ganjil-Genap Kendaraan Dinas Buntut Krisis Energi Timur Tengah

Antisipasi krisis energi akibat blokade Selat Hormuz, Pemerintah Korea Selatan resmi terapkan sistem ganjil-genap kendaraan dinas mulai 8 April 2026.

Elara | MataMata.com
Kamis, 02 April 2026 | 12:15 WIB
Korsel Terapkan Ganjil-Genap Kendaraan Dinas Buntut Krisis Energi Timur Tengah

Korsel Terapkan Ganjil-Genap Kendaraan Dinas Buntut Krisis Energi Timur Tengah

matamata.com - Pemerintah Korea Selatan resmi memberlakukan pembatasan kendaraan operasional pemerintah melalui sistem ganjil-genap. Langkah ekstrem ini diambil sebagai respons atas krisis bahan bakar global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan menyatakan aturan ini mulai berlaku efektif pada 8 April 2026. Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menaikkan tingkat kewaspadaan krisis keamanan sumber daya minyak mentah dari Level 2 ke Level 3 (siaga), terhitung mulai Kamis (2/4/2026).

"Sistem ganjil-genap bagi kendaraan pemerintah ini memberi ruang bagi masyarakat untuk bersiap sebelum aturan benar-benar diimplementasikan," tulis laporan kantor berita Yonhap, mengutip pernyataan resmi kementerian.

Berdasarkan kebijakan tersebut, kendaraan dinas dengan angka terakhir pelat ganjil hanya diizinkan beroperasi pada tanggal ganjil, begitu pula sebaliknya. Namun, pemerintah memberikan pengecualian bagi kendaraan listrik, kendaraan bertenaga hidrogen, serta kendaraan yang mengangkut penyandang disabilitas dan ibu hamil.

Untuk sektor swasta, pemerintah masih memberlakukan partisipasi bersifat sukarela. Meski demikian, akses kendaraan pribadi ke lahan parkir milik pemerintah daerah maupun instansi pusat akan dibatasi ketat. Sebagai gambaran, kendaraan dengan pelat berakhir angka 1 atau 6 dilarang parkir di area publik setiap hari Senin.

Kementerian Energi memperkirakan pengetatan ini mampu memangkas konsumsi minyak tambahan sebesar 37,5 persen, atau setara 17.000 hingga 87.000 barel per bulan.

Krisis energi di negeri gingseng ini merupakan dampak langsung dari memanasnya hubungan Iran dan Israel. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada akhir Februari lalu memicu aksi balasan Iran ke fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi ini menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur krusial distribusi minyak dunia. Situasi ini sangat memukul Korea Selatan mengingat sekitar 70 persen impor minyak mereka harus melewati jalur tersebut. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

PT BYD Motor Indonesia resmi mengubah nama merek Denza menjadi Danza per 1 Oktober 2026 akibat sengketa merek. BYD pasti...

news | 16:30 WIB

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menegaskan penghentian ekspor benih bening lobster (BBL) berlaku selamanya. Pemerintah...

news | 16:34 WIB

Arrmanatha Nasir resmi menerima jabatan Menlu RI dari Sugiono di Gedung Pancasila Kemlu. Sugiono kini mengemban amanat b...

news | 13:00 WIB

Kemenag kembangkan Kurikulum Cinta bernuansa ekoteologi untuk menanamkan kesadaran merawat lingkungan dan kasih sayang s...

news | 12:30 WIB

Komisi III DPR mendukung rotasi ratusan pejabat Polri oleh Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, namun mengingatkan penting...

news | 12:18 WIB