Rupiah Tembus Rp17.503 per Dolar AS, Tertekan Konflik Selat Hormuz dan Isu PHK Dalam Negeri

Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.503 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Simak analisis pemicunya dari konflik Selat Hormuz hingga badai PHK di dalam negeri.

Elara | MataMata.com
Selasa, 12 Mei 2026 | 12:36 WIB
Arsip foto - Sebuah kapal menunggu untuk melewati Selat Hormuz pada 8 April 2026. (ANTARA/Shady Alassar/Anadolu Agency/pri.)

Arsip foto - Sebuah kapal menunggu untuk melewati Selat Hormuz pada 8 April 2026. (ANTARA/Shady Alassar/Anadolu Agency/pri.)

Matamata.com - Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Per pukul 11.47 WIB, mata uang Garuda merosot 89 poin atau 0,51 persen ke level Rp17.503 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.414 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan tajam ini dipicu oleh tensi geopolitik di Selat Hormuz yang kembali memanas. Meski mantan Presiden AS Donald Trump sempat menyebut ketegangan mereda, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.

"Ketegangan di Selat Hormuz terus memanas setelah AS menolak proposal perdamaian Iran. Akibatnya, muncul serangan-serangan kecil antar-kapal di wilayah tersebut," ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (12/5).

Ibrahim menambahkan, keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA) yang menyerang kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, semakin memperkeruh situasi. Eskalasi di Timur Tengah ini memicu penguatan Indeks Dolar AS (DXY) secara signifikan dan mengerek harga minyak mentah jenis Brent.

Sentimen Domestik: Bayang-bayang PHK dan Rebalancing MSCI Dari sisi internal, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen ternyata belum cukup kuat menopang rupiah. Ibrahim menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut mayoritas masih didorong oleh konsumsi masyarakat dan belanja negara, sementara sektor investasi masih sangat kecil.

"Dampak kekacauan di Timur Tengah menjadi ancaman nyata bagi Indonesia. Di sisi lain, kondisi industri padat karya kita sedang tidak baik-baik saja," lanjutnya.

Data menunjukkan, sepanjang Januari hingga April 2026, sebanyak 40.000 buruh di sektor tekstil, garmen, dan elektronik telah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Angka ini diprediksi akan terus meningkat signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Kekhawatiran pasar semakin diperparah oleh tingginya jumlah pekerja di sektor informal yang mencapai 87,74 juta orang. Selain itu, investor kini tengah bersikap wait and see menanti rilis data Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menurunkan peringkat (downgrade) saham-saham di Indonesia.

Ibrahim memprediksi rupiah masih berpotensi melemah dalam jangka pendek, namun diharapkan tertahan di level Rp17.550 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. (Antara)

Baca Juga: Puan Ingatkan Pemerintah: Jangan Biarkan Indonesia Jadi Markas Sindikat Judi Online

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Menlu Italia Antonio Tajani membantah keras klaim Sekjen NATO Mark Rutte terkait penggunaan pangkalan militer Italia ole...

news | 12:41 WIB

KPK limpahkan berkas tahap II tersangka terakhir kasus suap Ditjen Bea Cukai, Budiman Bayu Prasojo. Kasus ini turut meny...

news | 12:38 WIB

Menhut Raja Juli Antoni bentuk Satgas khusus demi targetkan 13 taman nasional mandiri finansial pada 2030 melalui skema ...

news | 09:15 WIB

Iran diduga menembaki kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz tanpa peringatan. Insiden ini mengancam memorandu...

news | 09:11 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Dirut PLN Darmawan Prasodjo memastikan kendala pasokan batu bara kalori menengah untuk...

news | 06:00 WIB

Pakar nuklir AS Dr. Kelle Barfield sebut Indonesia tak mulai dari nol dalam pengembangan energi nuklir sipil. AS siap bo...

news | 18:31 WIB

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menargetkan penerbangan Indonesia mulai m...

news | 18:27 WIB

Mendes PDT Yandri Susanto bakal memutakhirkan program Jaga Desa ke sistem digital. Langkah ini diambil untuk mendongkrak...

news | 18:24 WIB

Istri mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas, Eny Retno Yaqut, mengapresiasi langkah KPK yang mengabulkan pembantaran penahana...

news | 12:54 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan DPR bergerak cepat mencari solusi kenaikan harga gas industri non-HGBT guna menyelamat...

news | 12:50 WIB