BI: Digitalisasi dan Uang Rupiah Fisik Saling Melengkapi, Bukan Menggantikan

Bank Indonesia tegaskan digitalisasi seperti QRIS tidak menggantikan uang rupiah fisik. Simak alasan BI tetap mendistribusikan uang kartal ke wilayah 3T.

Elara | MataMata.com
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 12:38 WIB
BI: Digitalisasi dan Uang Rupiah Fisik Saling Melengkapi, Bukan Menggantikan

BI: Digitalisasi dan Uang Rupiah Fisik Saling Melengkapi, Bukan Menggantikan

matamata.com - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa transformasi penggunaan uang digital tidak akan menggantikan keberadaan uang rupiah fisik. Kedua sistem transaksi tersebut dinilai saling melengkapi (komplementer) seiring perkembangan model transaksi keuangan modern.

Hal tersebut disampaikan oleh Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Anwar Bashori, di sela pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (Ferbi) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

"Digitalisasi luar biasa kenaikannya, tetapi Bank Indonesia menekankan bahwa antara digitalisasi dengan cash itu bukan saling menggantikan, melainkan komplementari atau saling melengkapi," ujar Anwar.

Anwar menjelaskan, BI terus mendukung akselerasi digitalisasi transaksi keuangan, salah satunya melalui perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di berbagai daerah. Namun, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau menjadi tantangan tersendiri, terutama terkait ketersediaan jaringan telekomunikasi yang belum merata.

Oleh karena itu, keberadaan uang rupiah kartal masih sangat dibutuhkan untuk menjaga perputaran ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan terpencil. Untuk menjangkau wilayah tersebut, BI rutin bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut dalam mendistribusikan dan mengganti uang lusuh secara berkala.

"Kalau di Jakarta, uang yang kondisinya kurang bagus bisa langsung kita distribusikan setiap waktu lewat ATM. Namun, di wilayah terpencil, siklusnya cukup lama karena kendala medan. Meski begitu, kita harus hadir dengan kapal laut untuk mengganti uang tersebut setiap tahun," jelas Anwar.

Selain faktor geografis, Anwar menyebutkan tiga alasan utama mengapa uang rupiah fisik tetap memegang peranan penting:

  1. Pasar Tradisional: Masih banyak penjual dan pembeli di pasar tradisional yang belum terhubung dengan layanan digitalisasi keuangan.
  2. Kondisi Darurat Bencana: Saat terjadi bencana alam, transaksi berbasis uang kertas menjadi satu-satunya pilihan karena tidak bergantung pada pasokan listrik maupun jaringan telekomunikasi.
  3. Tradisi Kebudayaan: Tradisi berbagi uang tunai seperti angpao saat Hari Raya Lebaran dan hari besar keagamaan lainnya masih melekat kuat di masyarakat.

"Hal-hal tersebut terus kami perhatikan. Tidak ada satu pun negara di dunia yang sepenuhnya meninggalkan uang kartal. Jadi, digitalisasi bukan substitusi, melainkan saling melengkapi," tegas Anwar. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

BGN dan Kemendagri resmi mengintegrasikan data Dukcapil untuk mengeliminasi data ganda penerima Program Makan Bergizi Gr...

news | 11:30 WIB

Presiden Prabowo Subianto mengumumkan kenaikan gaji hakim junior hingga 280 persen dalam Pidato Kenegaraan Sidang Tahuna...

news | 10:46 WIB

Ketua MPR Ahmad Muzani sebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai terobosan mewujudkan Generasi Emas 2045 dalam Si...

news | 10:04 WIB

Kereta penumpang berisi 150 orang anjlok di East Sussex, Inggris. Sebanyak 11 orang terluka dan perjalanan kereta tergan...

news | 09:30 WIB

Kementerian ESDM menegaskan bakal menindak tegas tambang emas ilegal (PETI) yang menyuplai sindikat penyelundupan emas R...

news | 08:15 WIB