Sah! RI Targetkan Stop Impor Solar Tahun 2026, B50 Jadi Senjata Utama

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia targetkan Indonesia stop impor solar pada 2026. Capaian B40 tahun 2025 sukses pangkas impor dan hemat devisa Rp130 triliun.

Elara | MataMata.com
Jum'at, 09 Januari 2026 | 07:15 WIB
Sah! RI Targetkan Stop Impor Solar Tahun 2026, B50 Jadi Senjata Utama

Sah! RI Targetkan Stop Impor Solar Tahun 2026, B50 Jadi Senjata Utama

matamata.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa kebijakan mandatori B40 telah memberikan dampak besar bagi ketahanan energi nasional.

Implementasi bahan bakar nabati ini berhasil memangkas impor solar hingga 3,3 juta kilo liter (kL) sepanjang tahun 2025.

"Saya bersyukur impor solar kita pada 2024 masih sekitar 8,3 juta ton. Namun pada 2025, angka tersebut turun menjadi kurang lebih 5 juta ton," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi pemanfaatan biodiesel domestik periode Januari-Desember 2025 mencapai 14,2 juta kL. Angka ini melampaui target Indikator Kinerja Utama (IKU) sebesar 13,5 juta kL, atau mencapai 105,2 persen dari target.

Keberhasilan ini mendorong pemerintah untuk mematok target ambisius: menghentikan total impor solar pada tahun 2026. Strategi utama yang disiapkan adalah percepatan uji coba biodiesel B50.

"Target tersebut didukung rencana uji coba B50 yang dijadwalkan selesai pada semester pertama 2026. Jika evaluasi teknis dan ekonomi berhasil, implementasinya akan segera dicanangkan pada semester kedua," lanjut Bahlil.

Selain menekan angka impor, kebijakan biodiesel 2025 juga tercatat menyelamatkan devisa negara sebesar Rp130,21 triliun. Dari sisi lingkungan, program ini berhasil mereduksi emisi hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen serta memberikan nilai tambah pada Crude Palm Oil (CPO) sebesar Rp20,43 triliun.

Optimisme bebas impor di tahun 2026 juga didasari oleh beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek ini diproyeksikan bakal meningkatkan kapasitas produksi solar dalam negeri secara masif.

"Kalau B50 mulai kita gunakan dan RDMP di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026," tegasnya.

Meski demikian, Bahlil memberikan catatan terkait Solar CN51 yang memiliki spesifikasi khusus untuk industri alat berat. Untuk jenis ini, opsi impor terbatas masih dibuka lantaran kapasitas produksi domestik yang masih dalam tahap pengembangan. (Antara)

Baca Juga: Syarief Khan hingga Jarwo Kwat, Ramaikan Kuis 'Dream Box Indonesia'

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Indonesia bidik posisi pemain utama bioenergi sawit global lewat ajang INNOPROM 2026 di Rusia. Menperin tegaskan kesiapa...

news | 16:19 WIB

Netflix mengungkapkan film keluarga Indonesia rutin masuk daftar Global Top 10 dalam 4 tahun terakhir. Simak tren menont...

news | 16:10 WIB

Jaksa Agung resmi menunjuk Rudi Margono sebagai Plt Jampidsus menggantikan Febrie Adriansyah yang mengundurkan diri usai...

news | 14:08 WIB

Sekjen DPP Partai Golkar M. Sarmuji meminta kader muda AMPG adaptif terhadap perubahan zaman. AMPG juga menggelar Rapimn...

news | 14:01 WIB

Hubungan AS dan Iran kembali membara. Ketua Parlemen Iran tegaskan kesiapan pertahanan total saat bertemu Ketua MPR RI A...

news | 13:57 WIB