Mantan Dubes RI Sebut Tatanan Internasional Berbasis Aturan Mulai Kehilangan Kredibilitas

Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyampaikan bahwa tatanan internasional berbasis aturan semakin melemah dan berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.

Elara | MataMata.com
Minggu, 16 November 2025 | 08:00 WIB
Mantan Dubes RI Sebut Tatanan Internasional Berbasis Aturan Mulai Kehilangan Kredibilitas

Mantan Dubes RI Sebut Tatanan Internasional Berbasis Aturan Mulai Kehilangan Kredibilitas

matamata.com - Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyampaikan bahwa tatanan internasional berbasis aturan semakin melemah dan berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.

Dalam diskusi Global Town Hall 2025 yang digelar FPCI secara daring pada Sabtu, Dino menilai prinsip kesetaraan yang menjadi fondasi sistem global tidak lagi diterapkan secara konsisten.

“Aturan-aturan tersebut jelas tidak berlaku sama untuk semua negara, dan beberapa bahkan dikecualikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai yang diusung Piagam PBB semakin memudar, sementara politik kekuatan kembali mendominasi dinamika hubungan internasional.

Menurut Dino, arah perkembangan nasionalisme global juga menunjukkan tren yang kurang tepat.

“Nasionalisme memang bangkit, tetapi bukan nasionalisme yang sehat. Ini adalah nasionalisme yang tidak aman dan kerap disertai kemarahan. Terlalu banyak nasionalisme, sementara kemanusiaan justru berkurang,” katanya.

Dino menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan global.

Ia menyatakan bahwa masa depan dunia tidak hanya menjadi tanggung jawab para pemimpin negara, tetapi juga masyarakat luas.

“Masa depan yang kita perlukan adalah masa depan bagi warga dunia—masyarakat umum, pemikir, dan akar rumput—di mana pun Anda berada,” ujarnya.

Ia pun mendorong publik untuk lebih aktif berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan global.

Baca Juga: Isi Soundtrack Film, Audy Uwais Hadirkan Lagu 'Nyanyian Timur'

“Bersuaralah, sebarkan informasi, ajak berdiskusi, tidak setuju, tantang, dan beri masukan. Masa depan adalah milik kita dan generasi berikutnya. Mari kita bangun masa depan yang kita butuhkan bersama,” katanya.

Global Town Hall 2025 menghadirkan rangkaian diskusi tingkat tinggi yang membahas berbagai isu geopolitik, sosial, dan moral yang mendesak.

Acara tersebut digelar menjelang KTT G20 dan bertepatan dengan negosiasi iklim COP30 di Belém, Brasil, serta diikuti peserta dari 114 negara. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Wapres Gibran Rakabuming meninjau proyek PSEL Keramasan di Palembang. Pembangunan fasilitas pengolah sampah menjadi list...

news | 11:39 WIB

Mantan Menteri ESDM Sudirman Said kembali diperiksa Kejagung sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan minyak m...

news | 11:36 WIB

Kemenlu China tegaskan hubungan bilateral dan iklim investasi dengan Indonesia tetap kokoh, merespons spekulasi viral te...

news | 11:32 WIB

Kemnaker resmi membuka pendaftaran Program Magang Nasional 2026 Tahap 1 bagi fresh graduate. Cek informasi pendaftaran d...

news | 07:15 WIB

KPK mengisyaratkan menolak laporan gratifikasi Menhut Raja Juli Antoni terkait amplop dari Bupati Kuansing Suhardiman Am...

news | 06:00 WIB