Maluku Utara Siapkan Swasembada Telur 2026, Targetkan Harga Rp1.500 per Butir

Pemerintah Provinsi Maluku Utara (Pemprov Malut) menargetkan swasembada telur pada 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor ekonomi daerah melalui pengembangan ayam petelur dan ayam pedaging.

Elara | MataMata.com
Minggu, 27 Juli 2025 | 11:15 WIB
Gubernur Malut Sherly Tjoanda Laos, Minggu (27/7/2025). ANTARA/Abdul Fatah

Gubernur Malut Sherly Tjoanda Laos, Minggu (27/7/2025). ANTARA/Abdul Fatah

Matamata.com - Pemerintah Provinsi Maluku Utara (Pemprov Malut) menargetkan swasembada telur pada 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor ekonomi daerah melalui pengembangan ayam petelur dan ayam pedaging.

“Saat ini, Pemprov Malut targetkan dalam tahun 2025 ini siapkan infrastruktur yang memadai, agar di tahun 2026 ditargetkan menuju swasembada telur agar masyarakat di Malut bisa membeli telur dengan harga Rp1.500 per butir,” ujar Gubernur Malut Sherly Tjoanda Laos saat dihubungi di Ternate, Minggu (27/7).

Saat ini, harga telur di wilayah Malut berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.500 per butir, sebagian besar masih didatangkan dari Surabaya melalui jalur laut.

Untuk mewujudkan target tersebut, Pemprov Malut menggandeng Universitas Khairun serta pihak swasta dalam program pembibitan ayam petelur. Selain itu, pemerintah daerah juga menjalin kerja sama dengan sektor swasta untuk penyediaan 2.000 hektare lahan jagung sebagai sumber pakan ternak.

Sherly menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menyukseskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029. Lima agenda utama yang diusung dalam RPJMD tersebut meliputi transformasi digital, pemerataan pendidikan, manajemen talenta ASN, penguatan infrastruktur dasar, serta peningkatan produktivitas sektor pertanian.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan sebagai dasar pembangunan, terutama di wilayah kepulauan. “Peran aktif Polda Maluku Utara dalam menjaga kondusivitas wilayah sangat strategis dan diharapkan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan daerah,” jelas Sherly.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Malut, Willy Indra Yunan, mengingatkan pentingnya sertifikat kesehatan dari daerah asal untuk setiap komoditas telur dan hewan ternak yang masuk ke Malut.

“Tindakan tegas ini menunjukkan komitmen Karantina Maluku Utara dalam menjaga keamanan pangan dan mencegah penyebaran penyakit hewan antarwilayah. Diharapkan dengan adanya tindakan ini pengguna jasa karantina maupun masyarakat dapat lebih tertib administrasi,” ujarnya. (Antara)

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI

Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PLN segera memitigasi dampak pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa yang meresahka...

news | 17:12 WIB

Mendag Budi Santoso siapkan strategi jaga harga Minyakita tetap Rp15.700/liter dengan menggenjot distribusi BUMN Pangan ...

news | 15:37 WIB

Wamendagri Bima Arya menegaskan Gerakan Indonesia ASRI di Jayapura adalah arahan langsung Presiden Prabowo yang wajib di...

news | 14:08 WIB

Kementan pamerkan teknologi bioreaktor pengubah CPO menjadi bahan bakar nabati B100 di PENAS XVII Gorontalo sebagai lang...

news | 12:57 WIB

Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie datangi Beijing untuk jawab langsung surat keluhan investor China kepada Presiden Prabow...

news | 12:26 WIB

PLN memastikan pasokan batu bara kalori menengah ke berbagai PLTU di Jawa berjalan lancar demi memulihkan sistem kelistr...

news | 11:15 WIB

Mendagri Tito Karnavian meminta kepala daerah membebaskan biaya BPHTB dan PBG guna menggenjot pembangunan perumahan subs...

news | 10:45 WIB

Pakar Hubungan Luar Negeri BPIP Darmansjah Djumala menilai agresi militer Israel ke Lebanon menjadi ganjalan serius bagi...

news | 09:30 WIB

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menjenguk ulama kharismatik NTB Tuan Guru Bagu di RSPPN Soedirman Jakarta. Gubernur NTB sebut...

news | 08:15 WIB

Penasihat Khusus Presiden Said Iqbal siap hadiri Musyawarah SP Antara untuk bahas disrupsi digital dan gelombang PHK pek...

news | 07:15 WIB